Maggot BSF mampu menguraikan sampah organik secara cepat, sehingga mengurangi beban TPA yang selama ini menjadi salah satu permasalahan di kota besar seperti Jakarta yang menghasilkan lebih dari 7.000 ton sampah setiap hari.
Melalui pelatihan budidaya maggot BSF dan pembuatan eco enzyme, masyarakat yang tergabung dalam bank sampah binaan Brantas Abipraya belajar mengubah limbah organik menjadi produk bernilai.
Salah satunya maggot kering dan kasgot (kascing maggot) yang dapat dipasarkan sebagai pakan ternak alternatif atau pupuk organik.
Produk maggot ini mengandung protein tinggi yang dapat mendukung ketahanan pangan lokal, sejalan dengan pilar Kesejahteraan Sosial dalam Asta Cita yang mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi dan ketahanan pangan.
Baca Juga: 6 Vespa Sprint untuk Pemenang MyPertamina Tebar Hadiah 2025, Ini Cara Dapatkannya!
Dengan demikian, Abipraya Cermat tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan keterampilan secara mandiri.
Selain budidaya maggot, Brantas Abipraya juga mengajarkan pembuatan eco enzyme yang berasal dari fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran.
Eco enzyme ini memiliki banyak manfaat mulai dari pembersih serbaguna, pupuk alami, hingga pengusir hama yang ramah lingkungan.
Baca Juga: Juni Bertabur Diskon, DAMRI Hadirkan 3 Promo Sekaligus di Bulan Ini
Proses pembuatannya mudah dan murah, sehingga dapat dilakukan di rumah tangga maupun komunitas.
Pemanfaatan eco enzyme menjadi salah satu upaya konkret mendukung pilar Lingkungan Hidup Asta Cita dengan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia yang berpotensi merusak lingkungan.
Selain itu, penggunaan eco enzyme secara langsung membantu menghemat pengeluaran rumah tangga dan memberikan nilai tambah dari limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal.
Baca Juga: Atasi Polusi Plastik, Subholding Upstream Pertamina Inisiasi Berbagai Program Pengelolaan Sampah
Keberhasilan program Abipraya Cermat diukur bukan hanya dari jumlah peserta pelatihan, tapi juga dari dampak langsung terhadap pengurangan limbah organik yang berakhir di TPA dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.