Limbah organik yang diolah menjadi maggot dan eco enzyme mengurangi sampah yang harus dikelola oleh pemerintah, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah secara mandiri.
Melalui bank sampah binaan dan pelatihan intensif, Brantas Abipraya berperan membantu membangun masyarakat yang mandiri dalam pengelolaan sampah dan pengembangan usaha mikro.
Hal ini mendukung tujuan Asta Cita di pilar Kesejahteraan Sosial, yaitu mendorong masyarakat yang lebih produktif, mandiri, dan sejahtera secara ekonomi.
“Program ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga menjadi peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Kami ingin mengubah paradigma masyarakat tentang sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat dan bernilai,” tambah Dian.
Baca Juga: Mengungkap DOBBER, Terobosan Baru Pertamina EP untuk Optimalkan Produksi
Brantas Abipraya memperlihatkan bahwa perusahaan BUMN bisa berperan lebih luas dalam pembangunan nasional dengan menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Abipraya Cermat adalah contoh sinergi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya target pengurangan dampak lingkungan perkotaan (SDG 11.6) dan peningkatan ketahanan pangan (SDG 2.1).
Program ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi solusi inovatif sekaligus peluang bisnis berkelanjutan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Dengan membekali masyarakat keterampilan baru, sekaligus meningkatkan taraf hidup mereka melalui peluang ekonomi baru, Brantas Abipraya turut memastikan bahwa pembangunan lingkungan dan sosial berjalan seiring, seperti yang diamanatkan dalam Asta Cita.
“Brantas Abipraya berkomitmen terus memperluas jangkauan dan dampak Abipraya Cermat demi mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan sejahtera, sejalan dengan semangat Asta Cita yang ingin membawa bangsa ini maju dengan pembangunan berkelanjutan dan inklusif,” tutup Dian.***