“Tanpa midstream, upstream tidak bisa tumbuh. Penemuan cadangan gas baru sangat bergantung pada kesiapan jaringan pipa.
"Interkoneksi seperti EJGP–Gresem–Cisem menjadi pintu masuk penting untuk membuka pasar di wilayah-wilayah seperti Jawa Barat yang selama ini sulit dijangkau secara keekonomian,” tegasnya.
Baca Juga: Organisasi Internasional Bergengsi Akui Budaya Keselamatan Kerja Pertagas
Dari sudut pandang global, Widi Hernowo, VP HSSE & AI and Partnership Mubadala Energi, mengungkapkan besarnya potensi blok gas Andaman di wilayah utara Indonesia.
Namun, potensi ini hanya bisa dimanfaatkan secara ekonomis jika ditopang oleh infrastruktur pipa nasional.
“Cadangan Andaman sangat besar, namun komersialisasinya sangat bergantung pada keberadaan infrastruktur pipa milik Pertagas agar dapat tersambung dengan pasar domestik secara efisien,” ungkap Widi.
Baca Juga: Hari Anak Nasional 2024: Pertagas Berbagi Ceria dan Cerita Bersama Anak-Anak Kampung Buku Cibubur
Kebutuhan gas yang besar juga muncul dari sektor hilir strategis.
Ivan Ermisyam, Direktur Operasi PT INALUM, menyatakan bahwa keberlanjutan industri hilirisasi logam sangat bergantung pada pasokan gas yang stabil dan kompetitif secara harga.
“Biaya energi merupakan komponen dominan dalam operasional kami.
Baca Juga: Pertagas Hijaukan Pesisir Indramayu dengan Menanam 500 Pohon Mangrove di Hari Lingkungan Hidup
"Kami sangat berharap alokasi gas pipa tetap diberikan kepada INALUM agar rencana ekspansi pabrik kami di Kalimantan dapat berjalan dengan efisien dan berdaya saing.”
Dari sisi pengembangan kawasan industri, Marfan Trihartiko, Kepala Divisi Operasi, IT dan Services PT KITB, menyoroti bahwa kesiapan infrastruktur energi menjadi kunci utama pertumbuhan kawasan industri, bukan sekadar lokasi strategis.
“KITB sangat berterima kasih atas kehadiran pipa Cisem yang dibangun oleh Pemerintah RI.
Baca Juga: Manfaatkan Limbah, Pertagas Latih Masyarakat Penyangga IKN Kembangkan Pupuk Kompos dan Organik