Dalam sesi bertajuk Sustainable Construction Pathways: ESG Integration from Policy to Practice, Suripno memaparkan bahwa di masa depan, ESG bukan lagi sekadar pilihan, melainkan menjadi kebutuhan dalam dunia bisnis.
Baca Juga: PDC Sukses Pertahankan Sertifikasi SMAP ISO 37001:2016 dalam Audit Surveillance 2025
Ia menjelaskan, penerapan ESG akan menjadi persyaratan yang diperhitungkan sejak tahap desain hingga konstruksi dan operasional proyek.
“Semua requirement-nya akan semakin ditanyakan, mulai dari sejak desain, konstruksi, sampai dengan operasional,” tambahnya.
Pada tahap desain, misalnya, akan ada kebutuhan untuk mempertimbangkan Life Cycle Analysis (LCA) dari setiap material yang digunakan.
Baca Juga: Budaya K3 yang Kuat, PDC Kembali Raih Penghargaan di WISCA 2025
Sedangkan pada tahap konstruksi dan operasional, aspek ESG dari kontraktor atau mitra kerja akan turut menjadi sorotan.
Oleh karena itu, Suripno mengingatkan pentingnya penerapan green procurement atau pengadaan berkelanjutan sejak awal keterlibatan mitra kerja dalam proyek.
Menutup paparannya, ia juga menunjukkan sejumlah proyek konstruksi Pertamina yang telah menerapkan prinsip ESG secara nyata dan menyebut bahwa hal tersebut masih dapat dikembangkan lebih jauh ke depannya.
Baca Juga: Unit Bisnis Trading PDC Optimalkan Produksi Baja untuk Hulu Migas
“Baik infrastruktur yang sifatnya support maupun infrastruktur yang sifatnya berkaitan dengan migas, dari produksi sampai distribusi,” tutup Suripno.
Selain Suripno, sesi diskusi tersebut juga turut diisi oleh Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum, Boby Ali Azhari, serta Ketua QHSE BUMN Konstruksi, Subkhan, yang memberikan pandangan mereka terhadap praktik berkelanjutan dalam dunia konstruksi nasional.***