"Harapannya, program ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat luas dalam memanfaatkan kain bekas dan mendorong gerakan pengelolaan kain perca di Kecamatan Murung Pudak,” ungkapnya.
Baca Juga: Dukung Ketahanan Pangan, SKK Migas dan PEP Papua Serahkan Mesin Parut Sagu di Sorong
Sementara itu, Manager Communication Relations & CID PT Pertamina Hulu Indonesia, Dony Indrawan, menyampaikan keyakinannya bahwa masyarakat yang mandiri dan lingkungan yang lestari akan menunjang keberlanjutan bisnis hulu migas.
“Pelatihan ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan perusahaan dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat berdasarkan pemetaan sosial yang dilakukan.
"Harapannya, peningkatan keterampilan yang diperoleh oleh peserta akan mendukung peningkatan produktivitas, peluang usaha, dan pendapatan mereka,” kata Dony.
Ia menambahkan, strategi perusahaan untuk mendorong pelestarian lingkungan melalui pengurangan limbah sejalan dengan kebijakan keberlanjutan Pertamina.
Pemanfaatan kain perca dan coverall bekas menjadi langkah kreatif dan ramah lingkungan untuk mengurangi limbah tekstil.
Dengan bimbingan Yuyun, pengajar dari SMK Negeri 1 Tanjung, peserta dibekali teknik patchwork dan slashing untuk menggabungkan potongan kain menjadi produk baru.
Baca Juga: Bersama Petani, PEP DMF Kembangkan Potensi Jagung Lewat Sekolah Lapang Pertanian
Selain keterampilan teknis, pelatihan ini juga mengasah kemampuan kerja sama, komunikasi, dan pemecahan masalah dalam kelompok.
“Program CSR CETAR dan pelatihan menjahit ini mencerminkan komitmen kami untuk terus mendorong pengembangan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.
"Melalui pelatihan ini, para peserta yang merupakan anggota kelompok CETAR diharapkan tidak hanya memperoleh peningkatan keterampilan, tetapi dapat menciptakan peluang usaha baru yang mandiri, produktif, dan berdaya saing,” pungkas Dony.***