Baca Juga: KAI Bandara Dorong UMKM Klungkung Go Digital Lewat Relawan Bakti BUMN Batch VIII
Selain menciptakan peluang ekonomi, pelatihan ini juga mengedepankan keberlanjutan.
Limbah ternak seperti kotoran dan urin bisa dimanfaatkan menjadi pupuk cair maupun kompos, yang berguna untuk sektor pertanian sekaligus menjaga lingkungan.
Dr. Panjono menekankan bahwa kambing dan domba memiliki prospek besar di Indonesia.
Baca Juga: Rahasia Sebuah Pantai di Malang, Jadi Gerbang ke Pulau Keramat
Permintaan daging domba masih belum terpenuhi, sementara tren kontes dan hobi justru semakin meningkatkan nilai ekonominya, khususnya pada jenis unggulan seperti Kambing Peranakan Etawa (PE) dan Domba Garut.
“Satu induk domba bisa melahirkan hingga tiga ekor anak per tahun dengan bobot sapih rata-rata 13 kg. Jika dikelola dengan baik, potensi keuntungan yang diperoleh sangat menjanjikan,” jelasnya.
Program ini diharapkan mampu mendorong minat masyarakat untuk mengembangkan usaha peternakan sebagai sumber penghasilan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Warisan Perjuangan Tetap Dijaga, TASPEN Setia Salurkan Tunjangan Veteran
Dengan pengelolaan yang tepat, usaha budidaya kambing dan domba dapat menjadi pondasi ekonomi desa sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
“Kami percaya pemberdayaan masyarakat desa bukan sekadar memberi bantuan, tetapi menciptakan ekosistem yang berkelanjutan."
"Harapannya, masyarakat semakin melihat peternakan sebagai sektor yang prospektif, inovatif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan,” tutup Mas Aris. ***