“Pertamina NRE tidak mungkin berbisnis sendiri-sendiri, kita tetap membutuhkan dukungan dari lokal, dan dengan harmoni itulah terjadinya sinergi,” ujar John Anis.
Baca Juga: Pendakian Singkat Gunung Bismo Wonosobo, View Maksimal Effort Minimal
Selain menyediakan lampu tenaga surya, Pertamina NRE juga memberikan pelatihan dan edukasi perawatan PLTS kepada para nelayan.
Tujuannya agar teknologi ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Pendekatan berbasis knowledge sharing tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat pesisir agar semakin mandiri dalam mengelola sumber energi mereka sendiri.
Salah satu nelayan penerima manfaat, Rudi (45), mengungkapkan perubahan besar yang ia rasakan sejak menggunakan lampu PLTS di kapalnya.
“Alhamdulillah, sekarang kalau berangkat melaut hanya perlu 1 Liter BBM bisa untuk 4 hari karena sudah pakai lampu dari PLTS.
"Semoga nanti semua nelayan di sini bisa pakai, terutama untuk kapal yang lebih besar agar bisa ditambah lampunya,” ujarnya.
Bagi Pertamina NRE, kisah para nelayan di Desa Muara menjadi simbol transisi energi yang inklusif dan berkeadilan, di mana teknologi bersih tidak hanya dimanfaatkan oleh industri besar, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi masyarakat akar rumput.
Senada dengan hal tersebut, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa Pertamina terus berupaya menciptakan ekosistem energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai bagian dari strategi mendukung target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).
“Sebagai pemimpin energi transisi, Pertamina berperan dalam mendorong pemanfaatan energi bersih.
Baca Juga: Hidup Sehat dengan Diet Tepung, Simak Panduan Lengkap Serta Manfaatnya Bagi Tubuh
"Kami berharap, hal ini akan berdampak tak hanya untuk diversifikasi energi, juga mendorong perekonomian masyarakat karena meningkatnya efektivitas bekerja, sekaligus melindungi lingkungan dengan penurunan emisi karbon dioksida,” ujar Baron.