Kabar BUMN – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengimplementasikan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) sebagai terobosan di sektor hulu migas.
Inovasi ini difokuskan untuk mengoptimalkan produksi minyak dari lapangan tua yang masih memiliki cadangan, namun sulit dimaksimalkan menggunakan metode konvensional seperti injeksi air.
Pemanfaatan bahan kimia khusus dalam teknologi CEOR membuka peluang baru bagi peningkatan produksi migas nasional.
Baca Juga: Catat! Ini Rincian Lengkap 9 Momen Long Weekend di Tahun 2026, Bisa Jadi Patokan untuk Liburan
Inisiatif ini juga sejalan dengan upaya mendukung target pemerintah dalam menjaga ketahanan energi di tengah tantangan pengelolaan lapangan migas yang telah lama beroperasi.
Sebagai pionir penerapan CEOR skala komersial di Indonesia, PHR mengadopsi formulasi tiga bahan kimia utama, yakni alkali, surfaktan, dan polimer (ASP).
Ketiga komponen tersebut diinjeksikan ke dalam reservoir untuk membantu mengeluarkan minyak yang terjebak di pori-pori batuan.
Baca Juga: Dahana Raih CSR Award Kabupaten Subang 2025
Surfaktan berfungsi menurunkan tegangan antar muka minyak dan air sehingga minyak lebih mudah terlepas dari batuan.
Polimer berperan sebagai agen penyapu minyak yang telah terlepas, sementara alkali membantu mengurangi penyerapan surfaktan dan polimer oleh batuan reservoir.
Kombinasi ini diharapkan mampu meningkatkan aliran minyak yang tersisa dan mendorong kenaikan produksi secara signifikan.
Baca Juga: Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026, Total Ada 9 Momen Long Weekend
Menariknya, bahan kimia utama berupa surfaktan yang digunakan PHR merupakan hasil inovasi internal perwira Pertamina di Laboratorium PHR.
Surfaktan berbasis petroleum sulfonate ini dikembangkan bersama PT Pertamina Lubricant (PTPL) sebagai mitra teknis, mulai dari pengadaan bahan baku, proses blending, quality assurance/control, hingga distribusi ke lokasi proyek. Seluruh formulasi telah melalui pengujian di laboratorium maupun lapangan.