Kabar BUMN - Bantuan kemanusiaan dari Pertamina Peduli membawa angin segar bagi para penyintas bencana di Kabupaten Aceh Tamiang.
Dua pekan setelah bencana melanda, keterbatasan akses air bersih masih menjadi persoalan paling mendesak.
Sebagian besar sumber air warga tercemar lumpur, sehingga tidak layak digunakan baik untuk konsumsi maupun kebutuhan sanitasi.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Yanti, warga Kebun Tanah Kerban, Kecamatan Karang Baru.
Selama beberapa waktu pascabencana, ia dan keluarganya terpaksa memanfaatkan air parit bercampur lumpur sebagai satu-satunya sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.
Situasi itu mulai berubah sejak bantuan air bersih dari Pertamina Peduli hadir dan didistribusikan secara rutin setiap dua hari sekali.
Baca Juga: Berburu Street Food di Thailand, Berikut Rekomendasi Tempat-tempat Terbaik untuk Wisata Kuliner
Mobil tangki Pertamina Peduli berkeliling dari rumah ke rumah untuk menyalurkan air bersih, yang kemudian ditampung warga menggunakan jerigen maupun ember.
“Sangat membantulah air bersih ini. Sebelumnya kami pakai air parit. Air ini baru masuk sekitar dua minggu setelah kejadian, dan kami benar-benar terbantu,” ujar Yanti.
Pengalaman serupa juga dirasakan Putera, warga setempat, yang menggambarkan kondisi air sebelum bantuan datang sebagai sangat memprihatinkan.
Baca Juga: Jejak TESA: Tumbuhkan Harapan dari Aksi Menanam Pohon
Air parit bercampur lumpur harus disaring terlebih dahulu sebelum digunakan, meski kualitasnya jauh dari layak.
“Kalau kami menyebut air parit itu air cappuccino, karena warnanya seperti cappuccino.