Tanah tempat rumah berdiri tak lagi dikenali, tersapu arus air bercampur lumpur.
Baca Juga: Masih Bisa Hemat! Promo Diskon Tiket Kapal PELNI Hingga 20 Persen
Bencana tersebut mengubah banyak hal—mulai dari tempat tinggal, rutinitas harian, hingga rasa aman.
Karena itu, sekolah darurat dihadirkan sebagai ruang yang ceria dan menenangkan.
"Fokus kami pada trauma healing anak-anak yang terdampak banjir. Ada relawan dari Jakarta. Nanti kegiatan belajar mengajar turut diisi dengan cerita dongeng," katanya.
Baca Juga: Pulau Kecil di Utara Pulau Jawa, Indah, Sepi, dan Tidak Berpenghuni
Riswanto menjelaskan, banjir di Kabupaten Aceh Tamiang tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga trauma mendalam, terutama bagi anak-anak.
Banyak keluarga terpaksa tinggal di tenda pengungsian, menyisakan rasa takut dan kecemasan yang tersembunyi di balik keseharian mereka.
Menurutnya, di balik tenda pengungsian, anak-anak menyimpan kegelisahan yang perlu dipulihkan.
Baca Juga: PT TIMAH Perkuat Pendidikan Daerah Tambang Demi Generasi Unggul 2045
Bersama dewan guru, ia berupaya mengembalikan rasa normal dan aman yang sempat hilang akibat bencana.
"Sekolah darurat ini kami rancang bukan sekadar kegiatan mengisi waktu tetapi juga sebagai ruang pemulihan emosional yang aman, hangat dan bermakna. Sekolah jadi ruang anak-anak bermain dan belajar tanpa rasa takut," ujarnya.
Ratusan anak dari jenjang TK, SD, hingga SMP yang selama ini bersekolah di Yayasan Pendidikan Dharma Patra Rantau tampak antusias mengikuti kegiatan sekolah darurat.
Baca Juga: Suplai Beton Readymix WSBP untuk Jembatan Musi V Mencapai Hampir 94%
Seluruhnya merupakan korban banjir, dan sebagian masih tinggal di tenda pengungsian.