Namun di tengah kondisi krisis, tim di lapangan dituntut melakukan langkah luar biasa: memastikan turbin tetap beroperasi agar pasokan listrik tidak terhenti, sembari melakukan perpindahan bahan bakar secara manual di malam hari.
Baca Juga: DAMRI Rilis Jadwal Terbaru Bus Bisnis Denpasar–Surabaya, Tarif Terjangkau
"Tidak ada yang tidur. Tim di lapangan bekerja dalam shift ketat 24 jam. Kami berjibaku dengan katup, panel kontrol, dan koordinasi tanpa henti.
Fokus kami cuma satu: Jangan sampai operasi negara ini berhenti," ungkap salah satu operator dengan nada heroik, di fasilitas pembangkit listrik Minas.
Menjaga Fondasi Energi Nasional
Baca Juga: PT TIMAH Tbk Satukan Langkah Lewat Town Hall Meeting 2026
Dengan ketersediaan daya yang terbatas akibat gangguan gas, PHR harus mengambil keputusan sulit. Energi yang ada tidak lagi memungkinkan seluruh operasi berjalan bersamaan seperti biasa.
Berdasarkan perhitungan engineering yang akurat, PHR menerapkan strategi prioritas atau Pareto. Fokus utama diarahkan pada area-area kritis untuk mencegah minyak membeku (congeal) di Stasiun Pengumpul maupun Jaringan Pipa.
Secara paralel, tim mengupayakan agar sumur-sumur dengan tingkat produktivitas tinggi tetap beroperasi, mengacu pada sistem pengurangan beban otomatis (load shedding) yang dimiliki PHR.
Baca Juga: PT Vale Indonesia Memastikan Praktik Pertambangan Berkelanjutan di Pomalaa
Sementara itu, sebagian operasi lainnya terpaksa dihentikan sementara demi menjaga kestabilan jaringan secara keseluruhan.
Pendekatan ini terbukti efektif karena sebagian besar produksi tetap terselamatkan meskipun dalam kondisi kekurangan energi.
Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menegaskan bahwa ketangguhan para pekerja PHR di lapangan merupakan benteng utama dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Baca Juga: 5 Jajanan Tradisional Jawa Timur, Autentisitas Rasa dan Kekayaan Bahan Lokal
"Di tengah situasi akibat gangguan pada pihak ketiga seperti ini, saya melihat semangat juang yang luar biasa. Tim kami tidak menyerah pada keadaan.