Adapun Biorefinery Cilacap di Jawa Tengah dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 6 ribu barel per hari (KBPD) minyak jelantah untuk diolah menjadi energi hijau.
Saat ini, Kilang Cilacap telah menghasilkan 27 KL SAF per hari, dan pada 2029 diproyeksikan kapasitas pengolahan meningkat menjadi 887 KL SAF.
Baca Juga: Ide Ucapan Imlek dalam Bahasa Inggris untuk Teman dan Keluarga
Proyek ini diperkirakan memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp199 triliun per tahun, menyerap 5.900 tenaga kerja pada masa konstruksi, mencapai target TKDN 30%, serta mengurangi emisi sekitar 600 ribu ton setara CO2.
Dari sisi bahan baku, Pertamina juga memberdayakan masyarakat melalui pengumpulan minyak jelantah bersama Komunitas Beo Asri yang melibatkan lebih dari 2.900 kepala keluarga di tujuh titik pengumpulan.
Sementara itu, Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur, ditargetkan memiliki kapasitas produksi bioethanol berbasis tebu sebesar 30 ribu KL per tahun.
Proyek ini berpotensi mengurangi impor BBM dan ethanol, memberdayakan lebih dari 4 ribu tenaga kerja lokal dan petani tebu, mencapai TKDN sekitar 25%, serta menekan emisi tahunan hingga 66 ribu ton setara CO2.***