Kabar BUMN – Menghadapi dinamika geopolitik global serta fluktuasi harga energi dunia, PT Pertamina (Persero) melanjutkan agenda transformasi perusahaan guna mempertegas perannya sebagai BUMN Energi.
Langkah ini ditempuh untuk menjaga dan memperkuat ketahanan energi nasional melalui integrasi bisnis hilir dalam satu entitas yang terpadu.
Dalam implementasinya, Pertamina resmi menyatukan subholding yang bergerak di sektor hilir, yakni PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), serta segmen bisnis PT Pertamina International Shipping (PIS).
Baca Juga: Liburan Air Tanpa Panas, Waterboom Jogja Tawarkan Wahana Seru di Tengah Suasana Teduh
Ketiga entitas tersebut bergabung menjadi subholding downstream dengan PPN sebagai entitas penerima penggabungan. Proses merger ini dilakukan melalui kajian komprehensif, termasuk benchmarking terhadap perusahaan minyak dan gas sejenis di tingkat global.
Penggabungan tersebut diharapkan membentuk ekosistem bisnis yang saling terhubung dan berkelanjutan, mulai dari proses pengolahan bahan bakar di kilang, pendistribusian energi ke seluruh wilayah Indonesia, hingga pemasaran produk energi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui integrasi rantai pasok hilir, Pertamina memperkuat jaminan ketersediaan energi yang lebih andal (Availability), memperluas akses energi hingga ke pelosok negeri (Accessibility), menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan ramah lingkungan (Acceptability), serta menjaga harga tetap kompetitif (Affordability).
Baca Juga: KAI Buka Penjualan Tiket Mudik Lebaran 2026, Permintaan Tinggi Terlihat Sejak Awal Februari
Integrasi ini juga mendorong percepatan transisi energi melalui pengembangan portofolio bahan bakar rendah karbon sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan (Sustainability).
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa integrasi bisnis hilir bertujuan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, dan mendorong daya saing perusahaan.
Sistem yang terintegrasi memungkinkan koordinasi antarfungsi berjalan lebih cepat, pengambilan keputusan menjadi lebih efektif, serta investasi dilakukan secara lebih optimal.
Baca Juga: Panduan Belanja Bulanan yang Hemat dan Tidak Menguras Gaji
“Di tengah perubahan geopolitik, tuntutan transisi energi, dan persaingan global yang semakin ketat. Indonesia membutuhkan Pertamina yang lincah, kuat, dan terintegrasi."
"Ketika kilang, distribusi, dan logistik serta pemasaran bekerja sebagai satu sistem, kita dapat menghilangkan redundansi, mempercepat layanan, dan menghadirkan pasokan energi yang andal dari Sabang sampai Merauke,” ujar Simon.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Artikel Terkait
Infrastruktur Terintegrasi Balongan Perkuat Peran Pertamina Jaga Pasokan Energi di Jawa Barat hingga Jakarta
Jakarta Pertamina Enduro Tampil Perkasa di Proliga 2026, Sapu Bersih Dua Pertandingan Beruntun pada Pekan ke-4
Pertamina NRE Resmi Pegang 20% Saham CREC Filipina
Pertamina EP Pangkalan Susu Mulai 2026 dengan Program Pengeboran Sumur Baru
Talenta Indonesia di Kancah Internasional, Perwira Pertamina Pimpin Operasi Migas Multinasional di Aljazair