Jalur transmisi ini berperan sebagai interkoneksi regional guna menjaga kualitas tegangan, meningkatkan keandalan suplai listrik, sekaligus menghubungkan sistem kelistrikan dari Blangpidie di Aceh Barat Daya hingga Samadua di Aceh Selatan.
"Beroperasinya infrastruktur ini meningkatkan keandalan sistem dan berpotensi menghemat konsumsi bahan bakar minyak rata-rata sekitar 638,6 kiloliter per bulan dari pengurangan penggunaan pembangkit diesel. Trafo berkapasitas 30 MVA juga disiapkan untuk menopang pertumbuhan kebutuhan listrik sektor rumah tangga, bisnis, dan industri," jelas Dewanto.
Baca Juga: Libur Imlek 2026, Lebih dari 1,6 Juta Kendaraan Padati Akses Keluar-Masuk Jabotabek
Dengan mulai beroperasinya jaringan ini, Aceh Selatan tidak lagi bergantung pada jaringan tegangan menengah maupun pembangkit diesel. PLTD Kota Fajar pun akan dihentikan operasinya seiring beroperasinya SUTT Blangpidie - Tapak Tuan.
“Stabilitas tegangan menjadi lebih terjaga, manuver beban saat gangguan lebih fleksibel, dan potensi pemadaman dapat ditekan secara signifikan,” lanjutnya.
Dewanto menambahkan, keberhasilan proses energize ini juga tidak terlepas dari dukungan penuh pemerintah daerah setempat. Seluruh tahapan pembangunan telah dilaksanakan sesuai standar teknis yang berlaku serta menerapkan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Baca Juga: 5 Spot Ngabuburit Ramadan 2026 di Solo yang Ramai Jajanan UMKM dan Mudah Dijangkau
“PLN memastikan setiap infrastruktur ketenagalistrikan dibangun secara andal, aman, dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Dewanto. ***