Kabar BUMN – PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney resmi membuka kembali hotel legendaris di pusat Jalan Malioboro dengan nama asli Grand Hotel De Djokja.
Ini menandai era baru bagi hotel bersejarah yang telah berdiri sejak 1911. Langkah ini bukan sekadar rebranding, tetapi juga upaya mengembalikan identitas budaya dan posisi hotel sebagai landmark kelas dunia di Yogyakarta.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menegaskan bahwa revitalisasi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat citra Indonesia melalui pelestarian warisan budaya.
Baca Juga: Mudik Lebih dari 15 Jam? Ini Tips Ampuh Agar Kamu Tidak Jenuh di Perjalanan
Menurutnya, InJourney ingin menciptakan ekosistem pariwisata yang berkarakter dan mengangkat nilai-nilai luhur Indonesia, sehingga setiap aset menjadi representasi kebanggaan nasional sekaligus daya tarik global.
“Sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata, InJourney memiliki mandat tidak hanya untuk mengelola aset, tetapi juga menghidupkan kembali nilai sejarah dan identitas bangsa."
"Grand Hotel De Djokja adalah simbol perjalanan panjang Indonesia. Melalui revitalisasi ini, kami ingin memastikan warisan tersebut tidak hanya terjaga, tetapi juga relevan dan kompetitif di tingkat global, sehingga mampu menjadi katalis penguatan pariwisata Yogyakarta dan nasional,” ujar Maya Watono.
Baca Juga: Menuju Ekosistem Lebih Kuat, Konsolidasi BUMN Logistik Ditargetkan Tuntas Semester I 2026
Hotel yang berdiri sejak 1911 ini termasuk salah satu yang tertua dan paling prestisius di Malioboro.
Sepanjang sejarahnya, hotel mengalami beberapa pergantian nama, mulai dari Hotel Asahi (1942), Hotel Merdeka (1948), Hotel Garuda (1950), Natour Garuda (1975), Inna Garuda (2001), hingga Grand Inna Malioboro (2017), sebelum akhirnya kembali ke nama awalnya sebagai penghormatan terhadap sejarah dan budaya Yogyakarta.
Grand Hotel De Djokja juga memiliki nilai sejarah penting. Pada periode 1945–1946, ketika Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia, beberapa ruang hotel digunakan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat di bawah Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Salah satu ruang tersebut kini dikenal sebagai “Sudirman Suite” (Room 291) dan masih menyimpan artefak peninggalan sejarah.
Revitalisasi ini dikelola oleh anak perusahaan InJourney, InJourney Hospitality, sebagai bagian dari portofolio strategis dalam mengembangkan hotel-hotel bersejarah nasional.