rilis-bumn

Pertamina Hadirkan Air Bersih dari Ujung Papua hingga Wilayah Bencana

Selasa, 24 Maret 2026 | 18:30 WIB
Pertamina hadirkan air bersih dari Merauke hingga Sumatra, dukung SDGs dan Net Zero Emission 2060 dengan program sumur bor dan distribusi air bersih. (Dok. Pertamina)

Kabar BUMN – Ribuan warga Kampung Tambat di Merauke, Papua, lama bergantung pada curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air mereka.

Ketika musim kering tiba, sumur manual dengan air berbau belerang menjadi satu-satunya pilihan, menimbulkan dilema antara rasa haus dan risiko kesehatan. Kini, kondisi ini mulai berubah berkat inisiatif PT Pertamina (Persero).

Samuel Heremba, Kepala Kampung Tambat, mengenang masa sulit tersebut. "Dulu kami sangat mengandalkan tampungan air hujan. Ada sumur, tapi airnya mengandung belerang, kurang aman untuk digunakan," ujarnya.

Baca Juga: Liburan Keluarga Makin Bermakna, Ini Rekomendasi Wisata Edukatif di Purbalingga

Lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pertamina menghadirkan sistem sumur bor yang lengkap dengan reservoir penampungan dan fasilitas penyaringan.

Kehadiran fasilitas ini disambut antusias oleh warga, yang sudah membawa jerigen sebelum seremoni peresmian dilakukan.

“Kini masyarakat tidak lagi khawatir terhadap kandungan belerang atau kesulitan air saat musim kemarau. Airnya sudah jauh lebih bersih dan penampungannya sangat cukup,” kata Samuel dengan rasa syukur.

Baca Juga: BNI Tambah Kredit Rp10 Triliun ke Pegadaian, Perkuat Akses Pembiayaan Nasional

Memperingati Hari Air Sedunia pada 22 Maret 2026, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan bahwa pada awal tahun 2026, Pertamina telah membangun tujuh titik sumur bor dengan fasilitas filter dan pipa aliran di Merauke serta Jayapura.

Fasilitas ini kini melayani 4.585 jiwa yang sebelumnya kesulitan memperoleh air layak konsumsi.

“Bagi Pertamina, inisiatif air bersih ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan upaya menjaga martabat kemanusiaan di wilayah yang paling membutuhkan."

Baca Juga: Diskon 30% Tiket Kereta Solo–Jakarta! Ini Jadwal dan Cara Pesan yang Wajib Kamu Tahu

"Program ini menjadi jembatan harapan agar warga di pelosok Papua hingga penyintas bencana di Sumatra bisa mulai menata hidup kembali dengan layak,” tegas Baron.

Situasi serupa terjadi di Sumatra, namun dalam konteks bencana. Banjir dan lumpur sempat memutus akses air bersih, membuat warga seperti Putera harus menyaring air dari parit, yang disebutnya sebagai "air cappuccino" karena warnanya cokelat pekat.

Halaman:

Tags

Terkini