Kabar BUMN - Seragam kerja bekas dari aktivitas pengeboran yang biasanya menjadi limbah, kini justru menarik perhatian dunia.
Pertamina Drilling membawanya ke forum internasional 7th Asia Pacific Conference on Industrial Engineering and Operations Management yang digelar IEOM Society International di Bangkok, Jum’at (27/3).
Melalui presentasi bertajuk “From Waste to Value in Drilling Operations : Material Flow Analysis of Pertamina’s Circular Uniform Upcycling Initiative”, Assistant Manager Brand & Media Pertamina Drilling, Ade Barkah Darmond, menjelaskan bagaimana seragam bekas diolah kembali menjadi produk bernilai lewat program GUD (Gear Upcycling Drilling).
Baca Juga: 31 Maret Jadi Penentu! Tukar Poinmu Sekarang di Undi-Undi Hepi 2026
Dengan pendekatan Material Flow Analysis (MFA), setiap material sisa dimaksimalkan hingga menjadi produk baru yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai keberlanjutan.
“Melalui GUD, kami ingin menunjukkan bahwa industri tidak hanya bisa menghasilkan energi, tetapi juga harapan bagi lingkungan, masyarakat, dan masa depan," ujar Ade.
Program ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang bagi UMKM untuk terlibat dalam proses produksi.
Baca Juga: Energi Tetap Aman, Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Logistik Laut di Tengah Dinamika Global
Hasilnya, limbah diubah menjadi produk kreatif hingga souvenir perusahaan yang lebih ramah lingkungan.
Langkah ini sekaligus menunjukkan komitmen perusahaan terhadap prinsip keberlanjutan dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3, SDG 8, SDG 12, dan SDG 13.
Di saat banyak perusahaan masih berbicara tentang keberlanjutan, Pertamina Drilling memilih untuk langsung bergerak dan membuktikan.
Baca Juga: Cari Kerja di Lampung? PT MUM Buka Lowongan Sales dengan Syarat Mudah
Gaung inovasi ini pun sampai ke para akademisi dunia. Britta Gammelgaard, Full Professor dari University of Southern Denmark, menilai pendekatan ini sebagai implementasi nyata circular economy yang jarang ditemukan di industri energi.
Sementara itu, Ahad Ali, Associate Professor sekaligus CEO dari IEOM Society International, melihat program ini sebagai praktik unggulan yang berpotensi direplikasi di berbagai sektor global.