Adapun lintasan Biak–Bromsi dioperasikan secara berkala dengan jadwal fleksibel, terutama pada akhir pekan hingga awal pekan, mencakup waktu pagi, siang, hingga malam hari.
Baca Juga: Jelajah Pola Pikir dan Wawasan Seorang RA Kartini dari 4 Buku yang Difavoritkannya
Seluruh operasional dilakukan dengan mengedepankan aspek keselamatan serta mempertimbangkan kondisi cuaca, demi menjamin layanan yang andal dan berkelanjutan.
Jaga Distribusi Logistik
General Manager ASDP Cabang Biak, Windra Soelistiawan, menyampaikan bahwa kesiapan kapal menjadi faktor penting dalam menjangkau wilayah pesisir dan terpencil.
Baca Juga: InJourney Airports Pastikan Kesiapan 19 Bandara Layani Keberangkatan Jemaah Haji
Kapal ini memiliki kapasitas 67 penumpang dan 7 unit kendaraan, yang dinilai cukup untuk mendukung mobilitas masyarakat sekaligus distribusi logistik secara efektif.
“Kehadiran kapal ini memberi dampak nyata. Mobilitas masyarakat kembali lancar, distribusi logistik terjaga, dan aktivitas ekonomi mulai bergerak kembali,” jelasnya.
Lebih jauh, konektivitas ini menjadi penggerak ekonomi lokal. Biak dan Teba dikenal dengan hasil lautnya, Bagusa dan Trimuris sebagai penghasil sagu, Kasonaweja dengan potensi perikanan dan padi, serta Bromsi dengan produksi ubi jalar.
Baca Juga: Edukasi Kesehatan Digelar PT Timah, Fokus pada Kesehatan Karyawan
Dengan tersambungnya wilayah-wilayah ini, distribusi komoditas menjadi lebih efisien dan bernilai tambah.
Potensi wisata pun ikut terbuka. Panorama laut Biak, pesona pesisir Teba dan Bromsi, hingga wisata sungai Kasonaweja menjadi daya tarik yang dapat dikembangkan secara terintegrasi.
Sepanjang 2025, KMP Mamberamo Foja telah melayani 13.083 penumpang, 282 kendaraan campuran, serta mengangkut sekitar 5.730 ton muatan curah—menegaskan perannya sebagai penghubung utama wilayah.
Sebagai garda terdepan konektivitas nasional, ASDP terus menegaskan peran vitalnya dalam menghubungkan Indonesia hingga ke wilayah 3TP, termasuk Wilayah Timur Indonesia, melalui layanan penyeberangan yang aman, andal, dan berkelanjutan—karena di setiap perjalanan, ada kehidupan yang terus bergerak.***