“Kami percaya bahwa keberlanjutan perusahaan harus berjalan seiring dengan keberlanjutan masyarakat di sekitarnya. Karena itu, program TJSL kami arahkan untuk menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan mendorong kemandirian ekonomi,” kata Jatmiko.
Ia menambahkan, kemitraan dengan kelompok usaha seperti pandai besi di Kampar merupakan bagian dari upaya memperkuat rantai pasok industri perkebunan yang inklusif, sekaligus memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Di Desa Teratak, perubahan itu kini terasa nyata. Denting besi yang dahulu sekadar menjadi rutinitas kerja, kini menjelma menjadi simbol kebangkitan.
Baca Juga: PNM Raih Penghargaan Global, Sukuk Rp3,77 Triliun Diakui di Ajang Internasional
Dari bara yang ditempa setiap hari, lahir bukan hanya alat-alat perkebunan, tetapi juga harapan, tentang desa yang bergerak maju, tentang anak-anak muda yang kembali memiliki peluang, dan tentang masa depan yang perlahan, namun pasti, sedang dibentuk.***