Kabar BUMN - Tumpukan jerami kerap menjadi pemandangan yang muncul selepas musim panen di Desa Pengabuan, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan.
Selama bertahun-tahun, batang dan daun padi yang mengering setelah panen belum dimanfaatkan secara maksimal. Akibatnya, limbah pertanian tersebut hanya dibiarkan atau menjadi sisa yang tidak memiliki nilai ekonomi.
Salah satu petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Barokah, Sarbeni, mengungkapkan bahwa limbah jerami di wilayahnya dapat mencapai sekitar empat ton per hektare. Namun, selama ini sebagian besar petani memilih cara cepat dengan membakarnya untuk membersihkan lahan pertanian.
Baca Juga: PLN Gandeng Pemprov Jawa Barat Percepat Penyediaan Listrik Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan
Keinginan untuk mengolah jerami sebenarnya pernah terlintas di pikiran Sarbeni. Ia berharap limbah pertanian itu bisa dimanfaatkan tanpa harus memberi dampak buruk terhadap lingkungan.
Sayangnya, keterbatasan wawasan dan minimnya pengetahuan membuat rencana tersebut belum dapat diwujudkan.
Titik perubahan mulai hadir pada 2025 ketika Pertamina EP Adera Field melakukan pemetaan sosial dan melihat persoalan yang dialami para petani di Pengabuan.
Baca Juga: PTPN IV PalmCo Gelontorkan Rp200 Juta untuk Bantu Atasi Banjir di Siak
Dari situ, secercah harapan mulai muncul melalui program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA) yang menghadirkan pendampingan bagi para petani untuk mengelola limbah jerami menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Sebagai bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, PEP Adera Field memberikan dukungan berupa alat dan pelatihan pengolahan jerami menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Berbagai hasil olahan mulai diproduksi, mulai dari briket hingga wadah ramah lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti plastik untuk menyimpan makanan maupun sayuran.
Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Arus Balik Jabotabek, Jasa Marga Minta Pengguna Tol Andalkan Travoy
Tak hanya itu, petani juga mendapatkan pembinaan mengenai pengelolaan usaha secara mandiri, termasuk peningkatan mutu produk, pengemasan, pencatatan sederhana, perhitungan biaya produksi, hingga strategi pemasaran.
Kini, Sarbeni bersama petani dari Kelompok Tani Barokah, KWT Selaras Alam, dan Taruna Tani tidak lagi membakar jerami setelah panen berlangsung. Mereka telah mampu mengolah limbah pertanian tersebut menjadi berbagai produk yang lebih bernilai.