Dalam membangun daya saing, Pertamina memanfaatkan kekuatan sebagai perusahaan energi terintegrasi yang memiliki rantai bisnis dari hulu hingga hilir.
Pengalaman panjang dalam pengembangan minyak dan gas bumi, infrastruktur yang telah tersedia, serta penguatan kemitraan strategis menjadi modal penting untuk memperkuat posisi perusahaan di tengah persaingan global.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.667 per Dolar AS, Begini Tips Mengelola Keuangan agar Tetap Aman
Pertamina juga memandang kemitraan sebagai sarana untuk mengurangi risiko dan mempercepat pengembangan berbagai peluang usaha.
“Kolaborasi dengan sesama NOC maupun International Oil Company membantu menurunkan risiko, memperkuat disiplin investasi, serta mempercepat pengembangan berbagai peluang bisnis yang mendukung ketahanan energi,” kata Oki.
Oki juga menilai kawasan ASEAN menjadi wilayah yang menarik bagi investasi energi karena memiliki pasar besar, pertumbuhan permintaan energi yang kuat, serta kondisi yang relatif stabil dan aman untuk investasi.
Baca Juga: Jangan Bingung! Ini Cara Mengurus Barang yang Tertinggal di Kereta agar Bisa Kembali
Menurutnya, sekitar 50 persen pertumbuhan permintaan energi berasal dari kawasan tersebut.
Selain itu, dukungan regulator dan para pemangku kepentingan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga arus investasi ke kawasan ASEAN.
“ASEAN menjadi kawasan yang menarik bagi investasi karena memiliki pasar yang besar, pertumbuhan permintaan energi yang kuat, serta kondisi yang relatif stabil.
"Dukungan regulator dan para pemangku kepentingan juga menjadi faktor penting dalam menjaga arus investasi ke kawasan ini,” tutup Oki.***