Nantinya, melalui layanan identitas terdesentralisasi ini, warganegara akan dapat mengontrol data mereka sendiri serta memiliki akses yang mudah dan aman ke semua jenis layanan digital di masyarakat.
"Kami percaya bahwa infrastruktur identitas digital terdesentralisasi berpotensi menjadi tulang punggung ekonomi digital yang memungkinkan untuk mempercepat inovasi, memperkuat persaingan, dan meningkatkan perlindungan konsumen," ujarnya.
Ekonomi digital Indonesia tercatat menduduki cakupan terbesar di antara negara-negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), yang mewakili 36% dari Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan serta pertumbuhan yang positif.
Kekuatan ekonomi digital tersebut berasal dari penetrasi internet yang tinggi dan populasi muda yang besar. Menurut International Monetary Fund (IMF), ekonomi digital Indonesia akan tumbuh delapan kali lipat dari 2017 hingga 2025.
Baca Juga: 5 Spot Camping Pinggir Pantai Terbaik di Yogyakarta
Sementara itu, Chief Executive Officer Protectoria Venture AS, Trond Lemberg, turut menjelaskan bahwa teknologi berbasis SSI ini telah terbukti membentuk layanan identitas digital yang mapan di sejumlah negara.
"Kami melihat layanan identitas digital ini nantinya dapat dioperasikan di seluruh kawasan ASEAN sesuai dengan ASEAN Digital Masterplan 2025," ucap Trond Lemberg.
Chief Executive Officer Gimle Investment Group, Per Fredrik Ecker menyambut baik kerjasama dengan PT INTI.
"Hal ini memiliki kemungkinan untuk membawa Indonesia menjadi yang terdepan, dengan memanfaatkan perkembangan kerangka teknologi terkini."
"Selain itu, kolaborasi dengan trusted partner lokal akan sangat menguntungkan dan mengamankan semua pemangku kepentingan dalam masyarakat digital yang berkembang pesat ini," pungkasnya.