Sementara itu, untuk kegiatan revegetasi, tim environmental PTFI menggunakan jenis tanaman asli setempat, yaitu rumput endemik Deschampsia. Tanaman ini hanya tumbuh di wilayah Grasberg.
Superintendent Highland Divisi Environment PTFI Amiruddin menjelaskan, ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) merupakan keunikan dari kawasan ini yang membuatnya sulit ditumbuhi banyak jenis tanaman.
“Rumput jenis ini memiliki faktor kesuksesan paling tinggi untuk tumbuh di zona alpin, yaitu 94 persen,” imbuhnya.
PTFI memiliki rumah nursery untuk memperbanyak rumput endemik ini. Untuk lahan seluas 1 hektare, dapat ditumbuhi sekitar 10 ribu rumput Deschampsia.
PTFI juga melakukan hydroseeding, yaitu upaya pemupukan dengan sistem tabur dan semprot.
“Cairan yang disemprot itu berisi campuran dari pupuk (bactosoil), media tanam, dan benih-benih yang kita ambil dari kelopak-kelopak di rumput ini. Pupuk bactosoil sendiri kami datangkan secara khusus dari Jerman,” kata Amir.
Baca Juga: Cegah Stunting, PTFI dan PWKK Freeport Berikan Edukasi Gizi Bagi Masyarakat Suku Dani dan Suku Damal
Upaya reklamasi lahan yang dilakukan PTFI di kawasan Grasberg menunjukkan komitmen PTFI dalam melakukan kegiatan produksi secara aman dan berkelanjutan.
Terlepas dari tantangan yang ada, PTFI selalu berupaya untuk mengembalikan lingkungan pasca tambang seperti semula.
PTFI percaya bahwa setelah tambang berhenti beroperasi, lingkungan dan masyarakat di sekitar area tambang dapat terus melanjutkan kehidupannya lebih baik lagi.***
Artikel Terkait
Demi Rawat Ekosistem di Pesisir, PT Timah Konsisten Laksanakan Reklamasi Laut
Reklamasi hingga Pengelolaan Hutan, PTBA Resmi Jalin Kerja Sama dengan Inhutani V
Kesuksesan Kampoeng Reklamasi Air Jangkang Antarkan MIND ID Unjuk Diri di ICAII 2023
PT Timah Tbk Tambahkan Area Pemancingan di Kampong Reklamasi Selinsing, Lokasi Wisata yang Bekas Lahan Tambang
Aktif dalam Pemenuhan Target Reklamasi, Subholding Pelindo Jasa Maritim Gencar Tanam Mangrove