'Smart Precision Farming' Direktur Utama Petrokimia Gresik Jadi Best Performance di CBDO Innolympia Festival

Photo Author
Novia, Kabar BUMN
- Rabu, 12 Juli 2023 | 17:30 WIB
'Smart Precision Farming' Direktur Utama Petrokimia Gresik Jadi Best Performance di CBDO Innolympia Festival (pupuk-indonesia.com)
'Smart Precision Farming' Direktur Utama Petrokimia Gresik Jadi Best Performance di CBDO Innolympia Festival (pupuk-indonesia.com)

Kabar BUMN - Pemaparan Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo terpilih sebagai "Best Performance" di ajang Innolympia Festival Chief Business Development Officer (CBDO) Innovation School 2023 di Kantor Kementerian BUMN RI di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pencapaian ini diperoleh setelah Dwi Satriyo menginisiasi dan mempresentasikan sendiri bersama timnya dengan judul business project program One Stop Solution in Agriculture through Smart Precision Farming.

Dwi Satriyo mengungkapkan bahwa prestasi ini merupakan salah bukti bahwa program ini mempunyai dampak yang besar, serta menjadi portrait untuk pertanian ke depan, dilansir Kabarbumn.com dari pupuk-indonesia.com.

Baca Juga: Aturan 50/30/20, Konsep Dasar Mengelola Gaji Bagi Fresh Graduate

Program Smart Precision Farming tersebut dilatarbelakangi oleh besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Indonesia, terbukti dari peningkatan selama pandemi dan berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun demikian, masih ada hal yang perlu ditingkatkan, yaitu produktivitas pertanian Indonesia yang masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan negara lain.

Menurut Dwi Satriyo, contohnya adalah produktivitas padi di Indonesia masih lebih rendah dari negara Vietnam. Tanaman jagung nasional juga produktivitasnya kalah dengan Amerika serta produktivitas kedelai masih di bawah Brazil.

Baca Juga: Komitmen Jaga Lingkungan, Angkasa Pura Airports Raih Penghargaan Nusantara CSR SDGS

Ia menambahkan, tantangan pertanian Indonesia berikutnya adalah rendahnya regenerasi petani muda di Indonesia dari tahun ke tahun yang sebetulnya juga dialami negara lain.

Berdasarkan data Bank Dunia, proporsi penduduk Indonesia yang bekerja sebagai petani menyusut tinggal 28,5% pada tahun 2019. Padahal, tiga dekade sebelumnya jumlahnya mencapai 55,5% dari total angkatan kerja. Sementara di sektor lain, justru meningkat.

"Smart Precision Farming dapat menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh pertanian Indonesia, dengan memanfaatkan teknologi modern, sehingga budidaya pertanian dapat dilakukan dengan cara lebih efektif, efisien, dan presisi. Hasilnya pun lebih optimal sehingga pendapatan petani meningkat, dan menarik minat generasi muda Indonesia," ujar Dwi Satriyo.

Baca Juga: Mulai Diterapkan di 5 Provinsi, PT Pupuk Indonesia Pastikan Petani Hanya Butuh KTP untuk Tebus Pupuk Subsidi

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam program Smart Precision Farming ini, Petrokimia Gresik akan menggunakan pupuk berteknologi nano, yang merupakan produk baru dan ini pertama kali dikembangkan di Indonesia.

"Kami memproyeksikan produk ini akan mengubah landscape penggunaan pupuk konvensional. Pupuk nano yang diproduksi oleh Petrokimia Gresik saat ini sedang dalam proses pendaftaran di Kementerian Pertanian," ujar Dwi Satriyo.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novia

Sumber: pupuk-indonesia.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini