Hal senada disampaikan olrh Buhan dan ribuan petani sawit swadaya lainnya yang mengaku terbantu dengan program dan kebijakan PTPN V.
Baca Juga: Jalur KA Antara Sentolo – Wates Sudah Bisa Dilalui Kecepatan Normal
Terobosan yang dilakukan PTPN V tersebut adalah bagian dari upaya memangkas ketimpangan produktivitas petani sawit, salah satunya melalui pendekatan digitalisasi.
Strategi tersebut diwujudkan anak perusahaan yang beroperasi di Bumi Lancang Kuning, Provinsi Riau tersebut melalui sawit rakyat online, sebuah aplikasi berbasis Android yang memudahkan petani mengakses dan mendapatkan bibit sawit unggul bersertifikat.
Pasca diluncurkan pertama kali pada akhir 2021 lalu, aplikasi yang dapat diakses melalui Play Store tersebut telah diunduh lebih dari 10.000 kali. Bahkan, aplikasi yang dirancang dengan sederhana dan dapat digunakan dengan mudah oleh para petani tersebut mendapat penilaian positif dari para pengguna.
Baca Juga: Jalur KA Antara Sentolo – Wates Sudah Bisa Dilalui Kecepatan Normal
“Kita bersyukur aplikasi yang dirancang dan dikembangkan oleh insan-insan PTPN V ini memberikan manfaat besar kepada petani untuk mendapatkan bibit sawit berkualitas dan bersertifikat,” kata CEO PTPN V Jatmiko Santosa.
Ia mengatakan maraknya bibit sawit palsu yang beredar luas di kalangan para petani menjadi dasar utama lahirnya kebijakan pembukaan kran bibit sawit yang dilepas secara daring tersebut. Program tersebut dilangsungkan secara masif dan berkelanjutan di tujuh sentra sekitar unit perusahaan pada 2021 lalu.
Selama tiga tahun terakhir program itu berjalan dengan sangat baik dan mendapat antusiasme tinggi dari para petani. Seolah oase di gurun pasir, dalam kurun waktu dua tahun, lebih dari 1,5 juta bibit diserap sekitar 5.100 petani sawit.
Baca Juga: Danau Segoro Anak, Keajaiban Alam yang Tersembunyi di Balik Megahnya Gunung Rinjani
Jatmiko mengatakan bahwa keberadaan bibit palsu sejatinya telah mendera petani begitu lama. Keberadaan bibit palsu membuat petani merana hingga tiga dekade lamanya.
“Bayangkan, ketika salah pilih bibit. Petani tertipu. Selama 25 hingga 30 tahun lamanya sawit mereka tidak tumbuh maksimal, produktivitas rendah, dan ekonomi pun terganggu. Inilah kenapa program ini kita hadirkan, termasuk melalui sentuhan teknologi,” ujarnya.
Tidak hanya fasilitas penjualan bibit, lanjutnya, aplikasi tersebut juga menyediakan fitur diskusi daring. Para pemilik akun dapat melakukan komunikasi dua arah untuk melaksanakan budidaya perkebunan berkelanjutan.
Baca Juga: Di Konferensi Kelistrikan se-Asia Pasifik, PLN Paparkan Skenario Transisi Energi Menuju NZE 2060
Perusahaan menyiapkan kolom diskusi dan admin khusus untuk menjawab pertanyaan para petani.
Artikel Terkait
PTPN V Tegaskan Komitmen Wujudkan Perkebunan Berkelanjutan
Masuki Pasar Eropa dan India, PTPN V Sukses Hasilkan Devisa USD 18,22 Juta
Sinergi PTPN V-Aiken Jepang Maksimalkan Pemanfaatan EBT Melalui Teknologi EGSB
PTPN V Turut Dilibatkan dalam Program Zero Carbon City Kerja Sama Antara Pekanbaru-Kawasaki
Pertama di Riau, Klinik Utama PTPN V Raih Akreditasi Paripurna