“Paradigma pemandu terus berkembang, baik secara narasi maupun skill menyampaikan cerita. Kita dukung mereka agar menguasai cerita serta bagaimana melayani sepenuh hati. Bukan hanya nice looking dan good looking, namun juga perlu improvisasi narasi yang bisa dipertanggung jawabkan baik secara moral maupun intelektual,” terangnya.
Koordinator Museum dan Cagar Budaya (MCB) Warisan Dunia Borobudur Wiwit Kasiyati mengapresiasi adanya pelatihan pemandu wisata bagi pelajar di Candi Borobudur ini.
Menurutnya, hal ini untuk menunjang manajemen wisata yang berdampak pada peningkatan pengalaman dan kualitas kunjungan.
“Penambahan kompetensi pemandu wisata merupakan kewajiban. Agar narasi tentang nilai cerita relief Borobudur, sejarah pemugaran, bisa memberikan substansi keberadaan Candi Borobudur. Penyampaian yang berkesan mendorong pengelolaan destinasi yang lebih baik, sehingga bisa turut membangun ekosistem pariwisata berkualitas di kawasan, dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu peserta, Bian Tamara Putra mengatakan bahwa adanya program pemandu wisata bagi pelajar di Borobudur ini membuka kesempatan bagi dirinya untuk berkembang dan ikut memajukan pariwisata di wilayahnya.
“Saya berkesan dengan program yang mengajak anak-anak lokal diikutsertakan menjadi bagian dari pemandu wisata di Borobudur. Sehingga, kami tidak hanya menjadi penonton, namun turut terlibat aktif memajukan situs Warisan Budaya Dunia ini,” pungkasnya.
Artikel Terkait
5 Destinasi Wisata Alam di Malang, Ada yang Mirip Swiss hingga Raja Ampat Papua
Promo KAI, Ada Potongan Harga Tiket Khusus KA Argo Cheribon, Berlaku untuk Keberangkatan Sampai 31 Januari 2024
Ada Loker BUMN dari PT MUM, Posisi Staf Legal dan Marketing untuk Penempatan di Menara PNM Jakarta Selatan, Berikut Syarat dan Kualifikasinya
Menang Tender, Pupuk Indonesia Niaga Kirim Coating Oil untuk Produsen Pupuk