Julmansyah menambahkan terkait produk hasil hutan harus distandarisasi termasuk pada sektor-sektor yang lain seperti wisata alam, sudah ada standar pengelolaan, model bangunan juga sudah ada. Semuanya itu menjadi kajian BPSILHK.
“Sehingga itu menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan hasil hutan maupun penggunaan kawasan hutan,” jelasnya.
Untuk diketahui dalam proses pembangunan design and build Gedung kantor BPSILHK ini, Waskita melakukan inovasi pengembangan desain dengan perkuatan struktur bangunan sesuai dengan standard index gempa di Lombok.
Baca Juga: Kimia Farma dan MSD Kolaborasi untuk Tingkatkan Awareness Masyarakat Akan Pentingnya Vaksin HPV
Selain itu, Waskita juga menerapkan green construction pada pekerjaan bagunan ini yaitu dengan menggunakan material pemasangan dinding rooster yang cukup masif di area bangunan.
Hal ini sebagai penunjang untuk mengurasi emisi carbon dari air conditioner dan memberikan sirkulasi udara bersih.
Sementara itu, pemasangan kaca di jendela yang cukup banyak pada bangunan utama untuk meminimalisir penggunaan listrik sebagai penerangan didalam ruangan serta pemasangan grease trap sebagai pengolahan air bekas sebelum dibuang ke saluran air.
“Waskita selalu mendorong pengembangan green construction di setiap proyek."
"Penerapan green construction ini merupakan salah satu upaya Perseroan dalam meningkatkan dan melindungi keragaman ekosistem, memperbaiki kualitas udara, mereduksi limbah serta konservasi sumber daya alam."
"Hal ini menjadi salah satu bentuk komitmen Waskita terhadap keberlangsungan dan penyelamatan lingkungan serta ekosistem alam,” tutup Ermy.
Artikel Terkait
Waskita Selesaikan 2 Proyek Saluran Air Limbah di Makassar, Komitmen Terciptanya Keberlangsungan Ekosistem Lingkungan
Usulkan Skema Restrukturisasi, Waskita Kantongi Restu Pemegang Obligasi
Gedung BPSILHK Mataram Rampung Dikerjakan Waskita, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Gelar Peresmian
Mengusung Konsep Green Building, Waskita Selesaikan Revitalisasi Gedung Perkantoran PT Bukit Asam