Pertamina berada di cluster yang sama (Medium Risk) dengan perusahaan global seperti Repsol, ENI, PTT Thailand dan TotalEnergies. Posisi ini pun tercatat lebih baik dari BP, Exxon dan Chevron.
Sejalan dengan penerapan ESG, Pertamina melalui PNRE telah mengembangkan pembangkit low carbon sebesar 2,5 GigaWatt (GW) dan strategic technical partners memiliki kapabilitas yang dapat dikontribusikan untuk mewujudkan Klaster Industri Hijau.
“Pengembangan Klaster Industri Hijau di Indonesia akan menjadi milestone penting untuk membentuk ekosistem industri hijau yang lebih luas lagi di Indonesia,” kata Fajriyah.
Fajriyah juga menambahkan bahwa hal ini dilakukan sebagai komitmen Pertamina dalam meningkatkan ESG Rating secara global serta akselerasi transisi energi secara nasional.