Menurutnya, rasio CAR BRI yang tinggi menunjukkan fondasi yang kuat untuk ekspansi bisnis dan mitigasi risiko.
Baca Juga: Upaya Menjangkau Seluruh Nasabah, BRI Terapkan Strategi Pengelolaan Segmen Nasabah Berbasis Piramida
Saat ini, CAR BRI tercatat lebih dari 26%, jauh di atas threshold Basel III, sementara BRI sebenarnya hanya membutuhkan CAR sebesar 17,5% untuk meng-cover risiko sesuai ketentuan.
Dengan CAR 26%, itu berarti BRI memiliki ruang lebih dari 7% untuk penggunaan modal.
"Ini menunjukkan bahwa selama lima tahun ke depan, berapa pun laba yang dihasilkan, BRI tidak perlu menahan laba untuk memperkuat modal dan berapa pun laba BRI memang harus dibagi,” ujarnya.
Baca Juga: Program Klasterku Hidupku BRI Iringi Kisah Sukses Petani Alpukat Probolinggo Tembus Pasar Nasional
Selain itu, Sunarso juga menekankan bahwa BRI senantiasa menjaga kualitas aset untuk memastikan bisnis BRI tetap sustain dalam jangka panjang.
BRI telah melakukan pengelolaan portofolio kredit secara hati-hati dan mengantisipasi potensi penurunan kualitas dengan menyediakan pencadangan yang mencukupi, guna memastikan kinerja perusahaan tetap solid.***
Artikel Terkait
ITPLN Buktikan Keunggulan di IPITEx 2025, Bawa Pulang Gold Medal!
UMKM Binaannya Berpartisipasi di INACRAFT 2025, Waskita Karya Dorong Agar Bersaing di Pasar Global
Promo! Tarif Layanan DAMRI Dari dan Menuju Bandara Soekarno-Hatta Lebih Murah Selama Sebulan
MoU KP2MI, KemenBUMN, KemenHAM, Garuda, dan Kamar Entrepreneur Indonesia Wujud Perlindungan Bagi Pahlawan Devisa
PEP Prabumulih Field Sumbang Revenue USD 348 Juta untuk Pertamina
Dorong Efisiensi Proyek, Waskita Karya Hadirkan Inovasi Digital Manajemen Konstruksi