Data lapangan kini dapat dicatat secara real-time, tersimpan rapi, dan mudah dianalisis untuk pengambilan keputusan yang cepat dan akurat.
Baca Juga: Peruri Own Voice: Angkat Suara Karyawan sebagai Sumber Kekuatan Perusahaan
KAI juga mulai menggunakan sensor digital untuk memantau kondisi jalur di daerah rawan. Sensor ini mampu mendeteksi pergerakan tanah, suhu rel, hingga getaran jembatan baja berusia lebih dari 90 tahun.
Semua informasi dikumpulkan dalam peta digital 3D yang memudahkan teknisi melakukan analisis dan tindak lanjut.
Modernisasi ini diiringi komitmen pada keberlanjutan. Panel surya telah dipasang di 138 lokasi stasiun dan fasilitas operasional dengan kapasitas hampir 4.500 kW, sebagai langkah konkret menurunkan emisi karbon.
KAI juga berperan aktif dalam proyek strategis nasional seperti elektrifikasi jalur Jakarta–Sukabumi, pengembangan sistem sinyal LRT Jabodebek dan Sumatera Selatan, serta penguatan persinyalan di jalur ganda selatan Jawa.
KAI menyesuaikan struktur organisasi lapangan, memfokuskan peran teknisi, dan memastikan seluruh proses perawatan mengikuti pedoman teknis resmi regulator. Hal ini menjamin kegiatan di lapangan seragam, efisien, dan akuntabel.
“Setiap kilometer rel yang kami perbaiki adalah wujud komitmen untuk menghadirkan transportasi yang lebih cepat, ramah lingkungan, dan cerdas. Di balik keheningan rel, ada kerja kolaboratif, teknologi, dan visi yang kami jaga,” tutup Heru.***
Artikel Terkait
KAI Jadi Motor Penggerak Ekonomi Kerakyatan, Salurkan Rp3 Miliar untuk Dukung UMKM
Sebelum Angkut Barang, KAI Cek Ketat 13 Lokomotif Baru yang Datang dari Amerika
KAI Raih 8 Penghargaan Internasional di Contact Center World Asia Pacific Awards 2025
Perkuat Efisiensi Distribusi Barang, KAI Kirim 60 Gerbong Datar Tahap Awal ke Palembang
Standar Keamanan Pangan Terpenuhi, KAI Services Raih Sertifikasi CPPOB BPOM
Tanpa Tiket Fisik, KAI Hemat Rp239 Juta Berkat Face Recognition