Adapun untuk bahan bakar kereta api, saat ini KAI telah menggunakan Biosolar B30 yang berarti 30 persen dari campuran tersebut terdiri dari bahan bakar yang berasal dari sumber nabati atau organik, seperti dari minyak kelapa sawit, jarak, ataupun dari beragam bahan organik lainnya.
Biosolar B30 ini memiliki emisi gas buang yang lebih rendah, sehingga dapat membantu mengurangi polusi udara. Bahkan di beberapa titik di Sumatera KAI sudah menggunakan Biosolar B35 yang berarti tingkat ramah lingkungannya lebih tinggi.
Baca Juga: Tips Beli Rumah Second Ala PLN, Pastikan Kelistrikan Aman dan Normal
KAI juga memiliki layanan kereta ramah lingkungan dengan menggunakan sumber energi listrik yang bebas emisi yakni KRL Jabodetabek, KRL Yogyakarta-Solo, KA Bandara Soekarno-Hatta, serta LRT Sumatera Selatan. Ke depan juga akan hadir kereta berenergi listrik pada LRT Jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
“Kereta api memiliki peran yang besar dalam melestarikan lingkungan dan menyediakan mobilitas bagi masyarakat. KAI bersama-sama seluruh stakeholder akan terus mengembangkan layanan kereta api agar kereta api semakin maju dan dapat memberikan nilai lebih secara berkelanjutan,” tutup Raden Agus.***
Artikel Terkait
KAI Bagikan Tiket Eksekutif Gratis Program Trip and Win, Simak Syaratnya
Kantongi Banyak Penghargaan, KAI Komitmen Untuk Memperluas Aksesibilitas Arsip
Kabar Gembira dari KAI, Banjir Promo Tiket Kereta Api di Bulan Juni 2023, Simak Penawaran Menariknya
Jadwal Kereta Panoramic Bulan Mei 2023, Beli Tiket Lewat Aplikasi KAI Access
KAI Bersama BUMN Selenggarakan Event Serba Lokal Fest Bantu Promosikan UMKM