Oleh karena itu, Muhammad Awaluddin mengatakan fasilitas penerbangan di Indonesia perlu benar-benar dipersiapkan.
"Ekosistem sektor transportasi udara harus benar-benar siap, terkait pola distribusi, suplai, angkutan kargo, hingga kaitannya dengan pariwisata," ujarnya.
Sementara itu, tantangan kedua menurut Muhammad Awaluddin adalah pengembangan teknologi untuk digunakan baik di bandara maupun di pesawat.
Baca Juga: Dukung ketahanan energi, 17 unit Pindad Moto EV Turut Berpartisipasi dalam Acara Ev Fun Trip
Kemudian tantangan ketiga terkait dengan peningkatan aspek operasional dan infratruktur guna berdampak pada peningkatan kapasitas bandara dan load factor di setiap penerbangan, termasuk juga peningkatan pelayanan dan operasional.
Adapun tantangan keempat dan kelima terkait dengan lingkungan, yakni penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai bahan bakar ramah lingkungan dan terkait dengan emisi karbon.
"Pengembangan bandara dengan konsep smart airport tentunya tidak bisa dihindari, dan ini sudah dilakukan AP II sejak 2016," tutur Muhammad Awaluddin.
"Pengembangan teknologi yang diharapkan ke depannya juga terkait operasional pesawat, yakni penggunaan pesawat listrik (electric) dan hybrid."
"Sektor penerbangan nasional harus memperhatikan keberlanjutan. Bandara AP II sendiri sudah mulai menggunakan energi baru terbarukan (EBT) di sejumlah bandara," imbuhnya.
Muhammad Awaluddin sendiri cukup optimis dunia penerbangan di Indonesia bisa melalui lima tantangan tersebut.