Desain lokomotif D14 ini cocok dioperasikan di lintas lokal dan jalur pegunungan. Jalur Bogor-Sukabumi-Cianjur hingga Bandung kini tinggal kenangan, terlebih dengan ditutupnya jalur Bogor-Sukabumi pada tahun 2006. Jalur kenangan ini merupakan lintasan utama lokomotif berbahan bakar batu bara ini.
Lokomotif berbobot 68,66 ton ini memiliki tekanan boiler 12 atm. Melaju dengan kecepatan rata-rata 45 km/jam. Dimensi lokomotif ini ialah panjang 12, 65 meter, lebar 2,7 meter dan tinggi 3,7 meter. Mampu menampung persediaan air sejumlah 9 m3 dan penyimpanan batu bara sebesar 3 ton.
Baca Juga: Kunjungan ke Bali, Menteri BUMN Apresiasi Progress Pekerjaan Signifikan KEK Sanur
Dari total 23 lokomotif D14 yang terdapat di Indonesia. Kini terdapat satu unit yakni D1410 yang saat ini menjadi armada Kereta Wisata Jaladara di Kota Solo yang diresmikan pada 16 Februari 2020. Sebelumnya, pada tahun 2016 lokomotif ini diboyong dari Museum Transportasi TMII, Jakarta ke Solo. Selepasnya, tahun 2019 dilakukan restorasi di Balai Yasa Yogyakarta.
5. Lokomotif E10
Pada tahun 1894, pemerintah Hindia Belanda melalui perusahaan kereta api Staatsspoorweg ter Sumatra’s Westkust (SSS) selesai membangun jalur kereta api yang menghubungkan pelabuhan Emmahaven (Telukbayur) – Padang – Padangpanjang – Muarakalaban – Sawahlunto dengan panjang 155,5 km.
Baca Juga: Sering Diminta saat Melamar Kerja, Apa Itu Cover Letter?
Karena kondisi geografis Sumatra Barat yang berbukit-bukit maka, jalur kereta api pada beberapa lokasi, misal lintas Kayu Tanam – Padangpanjang – Batu Tabal, mesti menggunakan rel bergerigi, yang berfungsi untuk membantu lokomotif untuk menanjak dengan tingkat yang curam.
Salah satu lokomotif yang dibeli oleh SSS adalah Lokomotif uap E10 dilengkapi dengan roda gigi yang bertugas mengait rel bergerigi yang ada dibawahnya. Lokomotif ini didatangkan sejumlah 22 buah pada tahun 1921, 1926 dan 1928 dari pabrik Esslingen (Jerman) dan SLM (Swiss).
Setelah era kemerdekaan Republik Indonesia, Perusahaan Nasional Kereta Api (PNKA) kembali mendatangkan lokomotif uap E10 sejumlah 17 buah pada tahun 1964, 1966 dan 1967 dari pabrik Esslingen (Jerman) dan Nippon Sharyo (Jepang).
Baca Juga: Misi Kemanusian, Garuda Indonesia Terbangkan 31,6 Ton Bantuan ke Myanmar
Lokomotif Uap E1060 memiliki berat 56,4 ton dengan tekanan boiler 14 atm. Kecepatan layanan 50 km/jam dengan kekuatan tarik 9.000 kg. Lokomotif ini berdimensi Panjang 10,224 meter dan tinggi 3,714 meter. Guna mendukung operasional dibekali penyimpanan batu bara 2 ton dan persediaan air 6 m3.
Total lokomotif seri E10 berjumlah 39 dari tiga pabrikan yang berbeda. Kini, tersisi dua unit yakni E1060 “Mak Itam” di Sawahlunto dan E1016 sebagai koleksi di Museum Transportasai, TMII. Pada 20 Desember 2022 lalu, telah dilaksakanan peresmian pengoperasian kembali Kereta Api Wisata Mak Itam di jalur Sawahlunto - Muaro Kalaban, Sumatera Barat setelah sebelumnya berhenti beroperasi sejak tahun 2014.***