Pengereman yang dipakai pada kereta api di Indonesia pada umumnya menggunakan sistem jenis rem udara, mengompresi udara dan disimpan hingga proses pengereman terjadi.
Baca Juga: Nostalgia Masa Kecil, Rewatch Film 'Petualangan Sherina' Melalui Link Berikut Ini
Saat masinis mengaktifkan sistem pengereman, udara tadi akan didistribusikan melalui pipa kecil di sepanjang roda dan membuat friksi pada roda. Friksi ini yang akan membuat kereta berhenti.
Walaupun kereta api telah dilengkapi dengan rem darurat, rem ini tetap tidak bisa berhenti mendadak. Rem ini hanya menghasilkan lebih banyak energi dan tekanan udara yang lebih besar untuk menghentikan kereta lebih cepat.
Jadi, meskipun masinis telah melihat ada yang menerobos palang kereta, selanjutnya melakukan proses pengereman, maka tetap akan membutuhkan suatu jarak pengereman agar benar – benar berhenti.
Baca Juga: Cek Lokasi dan Jadwal Samsat Keliling Terbaru di Magelang Periode Juli 2023
Hal itulah yang nantinya menyebabkan kejadian tabrakan, apabila jarak pengereman tidak terpenuhi.
Adapun faktor yang berpengaruh pada jarak pengereman, yaitu:
1. Kecepatan kereta api. Semakin tinggi kecepatan kereta api, maka semakin panjang jarak pengereman;
Baca Juga: 5 Cara Top Up LinkAja Melalui ATM, BNI Mobile Banking, Internet Banking, SMS Banking, dan EDC
2. Kemiringan/lereng (gradient) jalan rel (datar, menurun, atau tanjakan);
3. Persentase pengereman yang diindikasikan dengan besarnya gaya rem;
4. Jenis kereta api (kereta penumpang/barang);
Baca Juga: Warga Magelang, Catat Update Jadwal SIM Keliling di Bulan Juli 2023
5. Jenis rem (blok komposit/blok besi cor);