Amati lelanguan adalah larangan untuk berfoya-foya atau bersenang-senang secara berlebihan saat perayaan Nyepi.
Larangan ketiga adalah amati lelungan, yaitu larangan bepergian sekaligus anjuran untuk berdiam di dalam rumah. Larangan keempat, amati karya, adalah larangan untuk bekerja selama Hari Suci Nyepi.
Larangan ini berlaku selama 24 jam sehingga Candi Prambanan hari ini dapat bernafas lega dari hiruk-pikuk kehidupan.
“Jadi seluruh teman-teman karyawan yang ada disini termasuk teman-teman dari pengkios juga libur total, tidak aktivitas sama sekali."
"Makna universal dari Catur Brata Penyepian, baik tentang introspeksi diri serta menumbuhkan perilaku harmoni dengan lingkungan sekitar."
"Keduanya mengajarkan nilai-nilai esensial tentang kebijaksanaan dan harmoni sosial untuk hadirkan kedamaian dunia,” jelasnya.
Salah satu anggota Bregada Mantrijeron Tian Juniardo yang turut melakukan penjagaan di pintu masuk Candi Prambanan sisi Timur mengatakan, kelompok Bregada Mantrijeron sangat mendukung kegiatan Prambanan Dalam Sunyi ini karena merupakan bentuk penghormatan dan toleransi.
Baca Juga: Donasi Poin Pelanggan, Telkomsel Salurkan Ratusan Pasang Sepatu ke Sejumlah Pelajar di Papua
“Tahun ini merupakan tahun kedua Bregada Mantrijeron terlibat dalam penjagaan Candi Prambanan pada saat Hari Raya Nyepi,” katanya.
Menurut dia, untuk pakaian yang dikenakan saat ini merupakan modifikasi dari pakaian Prajurit “Daeng” Keraton Yogyakarta yang dimodifikasi agar tidak sama persis dengan seragam asli Prajurit Daeng.
Sedangkan pada tahun lalu menggunakan seragam Prajurit Lombok Abang Keraton Yogyakarta.
“Aturannya memang seperti itu jadi pakaian atau seragam dari bregada itu pola dasarnya memang mengacu ke seragam prajurit keraton"