Kabar BUMN - Salah satu faktor utama dari perubahan iklim yang terjadi sekarang adalah pemanasan global yang dipicu produksi emisi karbon yang terlalu banyak di bumi dan tidak lagi sanggup diserap atmosfer. Untuk mengurangi emisi karbon salah satu caranya dengan dekarbonisasi.
Istilah dekarbonisasi pertama kali muncul dalam Perjanjian Paris 2015. Ada dua unsur utama yang penting dalam proses dekarbonisasi. Pertama, pengurangan emisi rumah kaca yang dihasilkan bahan bakar fosil. Sebagai gantinya sumber energi bisa didapat dari tenaga angin, solar, hydropower atau geotermal.
Kedua, untuk mencapai dekarbonisasi semua akpek ekonomi juga perlu berubah. Mulai dari bagaimana energi dihasilkan, barang dan jasa dikirimkan, hingga bagaimana lahan dikelola.
Baca Juga: Hati-Hati Heatstroke Akibat Suhu Panas Terlalu Tinggi
Target Pengendalian Emisi GRK
Pemerintah Indonesia ikut meratifikasi Perjanjian Paris dan berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Pemerintah telah menetapkan Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim di tahun 2050 dan target nol emisi atau net zero emmison tahun 2060.
Menteri Budan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir bahkan menerbitkan surat edaran tentang pelaksanaan program dekarbonisasi dan penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) di BUMN demi mencapainya target pengendalian emisi gas rumah kaca (GRK).
Erick meminta BUMN berperan serta sebagai agen pembangunan dan pilar ekonomi nasional dalam melaksanakan program dekarbonisasi secara terencana. Pada kesempatan lain, Erick berharap BUMN menjalankan prinsip ekonomi hijau dalam bertransformasi.
Baca Juga: Jelang Rekrutmen Bersama BUMN 2023, Simak Berikut 5 Tips Lolos Rekrutmen di Perusahaan
Program dekarbonisasi
Untuk mengejar target Indonesia net zero emission 2060 ada tiga program yang disiapkan oleh Kementrian BUMN. Tiga program tersebut adalah Renewable Development melalui Energy Transition Mechanism (ETM), pengembangan EV (Electric Vehichle) Ecosystem dan Green Industrial Cluster.
Untuk program Renewable Development, BUMN mempersiapkan berbagai program percepatan antara lain Percepatan Penghentian Dini PLTU Batubara, peningkatan kapasitas energi terbarukan termasuk panas bumi dan surya. BUMN yang melaksanakan program pertama ini adalah Pertamina, PLN, Perkebunan Nusantara, dan Pupuk Indonesia.
Kementerian BUMN juga akan mempercepat penghentian dini PLTU Batubara (CFPP/carbon free power project) karena mendapat dukungan finansial dari luar negeri.
Baca Juga: Kurangi Pencemaran Lingkungan, Pertamina dan BUMN Dukung Sanitasi Warga Rawa Barat
Sementara untuk program EV Ecosystem, Kementerian BUMN akan mendorong pengembangan bisnis ekosistem electric vehichle. Ada tiga langkah strategis yang dilakukan yaitu, penyiapan bahan baku untuk industri baterai EV, menjadikan Indonesia pusat pembuatan EV, dan investasi besar-besaran untuk stasiun pengisian daya (PLN).
Untuk pengembangan Green Industrial Cluster akan dilakukan dengan pengimplementasian solusi dekarbonisasi skala besar. Pupuk Indonesia dan PLN akan menjadi lead program.
Ada tujuh BUMN yang menjadi pilot project dekarbonisasi, yaitu Pertamina, PLN, Perkebunan Nusantara, Pupuk Indonesia Holding Company, Semen Indonesia, Perhutani, dan Bukit Asam.
Diharapkan dengan langkah-langkah ini dekarbonisasi di lingkungan BUMN bisa berjalan dengan baik. Sekaligus memastikan transisi energi berjalan dengan lancar. ***