Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam industri global.
Baca Juga: Grup MIND ID Ubah Sampah Plastik Menjadi Media Tanam di Fasilitas Nursery
Dengan produksi yang lebih besar, Indonesia berpotensi menjadi produsen katoda tembaga terbesar keempat di dunia, menggantikan Jepang.
Saat ini, tiga produsen terbesar adalah China dengan 12 juta ton, diikuti oleh Chili dengan 2 juta ton, dan Kongo dengan 1,9 juta ton.
Selain memperkuat posisi Indonesia di pasar global, peningkatan produksi ini juga membuka peluang bagi tumbuhnya industri manufaktur berbasis tembaga di dalam negeri.
Baca Juga: Kisah Kesuksesan MIND ID Dorong Inovasi Teknologi untuk Ciptakan Efisiensi Operasional Tambang
Heri menuturkan bahwa dengan pasokan tembaga yang lebih besar dan berkelanjutan, diharapkan lebih banyak investor tertarik untuk mendirikan pabrik manufaktur di sekitar kawasan industri Gresik.
Dengan semakin berkembangnya basis industri di Gresik, investor dapat memastikan pasokan tembaga yang lebih dekat, sehingga kegiatan operasional produksi menjadi lebih efisien.
“Kami sangat berharap industrialisasi berbasis sumber daya alam mineral ini dapat berjalan optimal, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dan menjadi bagian dari visi Indonesia Emas 2045,” tutur Heri.***