Sementara dalam bidang tata kelola perusahaan, KAI menargetkan peningkatan skor Good Corporate Governance (GCG) menjadi 94,817, serta meraih asesmen risiko ESG dengan predikat “low risk” atau risiko rendah.
Untuk memastikan keberlangsungan finansial, pilar keuangan difokuskan pada penguatan struktur modal, peningkatan efisiensi biaya, dan optimalisasi aset non-angkutan.
Tidak hanya itu, KAI juga mempercepat pengembangan unit bisnis baru, seperti layanan logistik terintegrasi, pengelolaan properti berbasis Transit Oriented Development (TOD), serta layanan berbasis digital sebagai upaya memperluas sumber pendapatan.
“Diversifikasi bisnis menjadi kunci untuk memperkuat daya tahan perusahaan terhadap perubahan pasar,” tegas Anne.
Baca Juga: 1 Train Set KRL Produksi INKA Tiba, KAI Commuter Siap Lakukan Uji Dinamis di Lintas Jabodetabek
Sebagai upaya mitigasi risiko bisnis di tengah perubahan pasar yang cepat, KAI juga mengadopsi sistem manajemen risiko berbasis data analitik, sehingga mampu mendeteksi lebih dini dinamika eksternal dan mengantisipasinya secara efektif.
Dengan keseluruhan strategi ini, KAI membidik capaian signifikan pada tahun 2029, yaitu volume pelanggan sebanyak 86,6 juta orang, serta volume angkutan barang mencapai 111,2 juta ton batubara dan 10,9 juta ton non-batubara.
Di sisi lain, dari aspek citra perusahaan, KAI menargetkan masuk dalam daftar Top 20 Most Valuable Brands di Indonesia.
Baca Juga: Perkuat Jaringan Logistik, KAI Logistik Gandeng GP Ansor Jawa Timur
“Dengan strategi ini, KAI menargetkan menjadi perusahaan transportasi berbasis rel terdepan di Asia Tenggara dengan layanan berkelas dunia yang berorientasi pada keberlanjutan dan inovasi,” tutup Anne.***