Peningkatan ini turut berkontribusi terhadap capaian produktivitas padi tertinggi secara nasional dalam tujuh tahun terakhir pada periode Januari-April.
“Untuk musim tanam Oktober-Maret periode ini (penyerapan pupuk bersubsidi, Red) mencapai 4,5 juta ton, sementara di periode tahun sebelumnya hanya 3 juta ton secara nasional. Artinya naik 50 persen.
"Dampaknya jelas, Indonesia tidak membutuhkan impor beras, bahkan mau ekspor beras. Pemerintah benar-benar ingin produktivitas pertanian meningkat,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tanjung Boleng, Saharudin, menyambut baik respons cepat dari Pupuk Indonesia dalam membuka layanan penebusan pupuk di Labuan Bajo.
“Sebagian besar warga Tanjung Boleng bekerja sebagai petani.
Baca Juga: Lowongan Magang BUMN PT Pupuk Indonesia (Persero) Wilayah 1 – Kota Bandung
"Tentu kami sangat senang, kami menyampaikan terima kasih atas kebijakan penebusan pupuk di Labuan Bajo untuk petani terdaftar di Tanjung Boleng, ini lebih dekat, dan transportasinya lebih murah,” tuturnya.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi model layanan pertanian yang responsif dan tepat sasaran, khususnya bagi wilayah-wilayah terpencil yang kerap menghadapi tantangan infrastruktur.***