Rencana revitalisasi PIM, tambahnya, sangat bergantung pada kepastian pasokan gas untuk menjaga keberlanjutan operasional, meningkatkan kapasitas produksi, serta menciptakan efisiensi.
“Untuk bisa melakukan revitalisasi pabrik, kita membutuhkan dukungan suplai gas jangka panjang,” tegasnya.
Sementara itu, MoU kedua diteken dengan PT Pema Global Energi (PGE) dan berfokus pada pemanfaatan emisi karbon dioksida.
Melalui kerja sama ini, kedua pihak akan menjajaki peluang pengembangan fasilitas Carbon Capture and Storage (CCS) serta Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) di Lapangan Gas Arun, Lhokseumawe, Aceh untuk produksi blue ammonia.
Rahmad menyebutkan bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Aceh.
Ia berharap, kawasan ini kelak dapat menjadi sentra perdagangan clean ammonia dunia.
Saat ini, Pupuk Indonesia juga tengah menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Jepang untuk pengembangan hybrid green ammonia di Aceh.
Bahkan, sedang dilakukan negosiasi agar fasilitas ammonia bunkering yang awalnya direncanakan di Singapura bisa dipindahkan ke Aceh.
“Sehingga tidak hanya memproduksi clean ammonia, tetapi kita juga bisa menjadikan Aceh menjadi pusat perdagangan dunia.
"Kami mohon doa dan dukungannya,” kata Rahmad.
Baca Juga: Pupuk Indonesia dan Kementan Kelola Lahan Rampasan Kejaksaan untuk Dukung Swasembada Pangan
Ia menambahkan, penandatanganan dua MoU ini merupakan bentuk nyata kontribusi Pupuk Indonesia dalam mewujudkan visi Asta Cita pemerintah: menuju swasembada pangan dan membangun ekonomi hijau demi tercapainya target Net Zero Emission (NZE) 2060.