trending

Di Tengah Keyakinan Gas Tetap Menjadi Pilar Transisi Energi, PLN EPI Ingatkan Tantangan Pasokan dan Infrastruktur ‎

Senin, 24 November 2025 | 11:00 WIB
PLN EPI kini tengah mengembangkan berbagai proyek gasifikasi pembangkit di antaranya Klaster Nias yang ditargetkan beroperasi pada Desember 2025. (DOK. PLN EPI)

Kabar BUMN - Gas bumi tetap menjadi pilar utama dalam transisi energi nasional, demikian ditegaskan Direktur Gas dan BBM PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Erma Melina Sarahwati dalam Electricity Connect 2025 oleh Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Rabu (20/11/2025).

Menurut Erma, gas bumi memegang peran strategis sebagai bridging fuel dalam upaya mencapai target emisi nol bersih.

Dibandingkan batu bara dan BBM, gas merupakan energi fosil paling bersih sehingga tetap dibutuhkan sebagai penyangga fleksibilitas sistem ketenagalistrikan.

Baca Juga: InJourney Hospitality Siap Hadirkan Pengalaman Bermakna di Momen Libur Nataru, Okupansi Diproyeksi Tembus 74%

Ia merujuk pada RUPTL 2025–2034, yang menetapkan tambahan pembangkit 69,5 GW hingga 2034, dengan lebih dari 75 persen berbasis energi terbarukan.

Namun demikian, gas tetap disiapkan sebesar 10,3 GW sebagai pengaman sistem, mengingat sifat intermiten energi surya dan angin, sementara pengembangan pembangkit geothermal dan hidro memerlukan waktu.

Erma menjelaskan bahwa kebutuhan gas PLN meningkat rata-rata 5,3 persen per tahun. Pada 2025 kebutuhan mencapai 1.600 BBTUD, dan melonjak menjadi 2.600 BBTUD pada 2034, dipicu program konversi pembangkit BBM ke Gas.

Baca Juga: Dua Penghargaan Langsung Bagi Komitmen Pemberdayaan PNM

Penurunan alamiah produksi gas pipa membuat PLN semakin bergantung pada pasokan LNG, termasuk kontrak LNG Tangguh sekitar 60–62 kargo per tahun yang akan berakhir bertahap hingga 2034.

Dengan begitu diperlukan tambahan pasokan gas dari penemuan cadangan baru, pengalihan ke domestik dari kontrak ekspor yang akan berakhir, maupun perpanjangan kontrak eksisting untuk mengisi gap kebutuhan.

Erma jug menekankan bahwa disparitas antara lokasi cadangan dan pusat permintaan menjadi faktor krusial.

Baca Juga: Pertamina Eco RunFest 2025 Turut Hasilkan Cuan Bagi UMKM Lokal, Bukan Sekadar Ajang Olahraga

Cadangan terbesar berada di Indonesia bagian timur, seperti Maluku, Papua, dan Kalimantan, sedangkan pusat beban berada di Jawa dan Sumatera.

Untuk menjembatani ini, Indonesia memiliki jaringan pipa dan berbagai FSRU seperti Lampung, Arun, Nusantara Regas, Bali, dan Gorontalo, dengan total kapasitas penyimpanan sekitar 700 ribu meter kubik dan kemampuan regasifikasi 1,4 juta kaki kubik per hari.

Halaman:

Tags

Terkini