Kabar BUMN - Sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu di Bali akan melakukan sejumlah ritual.
Diawali dengan melasti atau upacara sembahyang, dilanjutkan pengerupukan.
Upacara pengerupukan yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori rumah, dan menciptakan suara ramai.
Tujuannya untuk mengusir Buta Kala, yang sering dilakukan juga dengan pawai ogoh-ogoh.
Baca Juga: Merayakan Nyepi di Bali, HIG Siapkan Berbagai Penawaran Menarik
Mengusir Buta Kala
Dalam masyarakat Hindu Bali, Buta Kala adalah perwujudan unsur-unsur negatif dalam hidup manusia.
Di pawai ogoh-ogoh ini patung dengan rupa jelek dan mengerikan akan diarak keliling dan dibakar.
Pawai ogoh-ogoh dilakukan sehari sebelum Nyepi.
Baca Juga: Kental Akan Tradisi dan Budaya, 3 Desa Wisata di Bali ini Wajib Kamu Kunjungi
Setiap desa atau banjar menyiapkan satu ogoh-ogoh raksasa yang akan diarak keliling bersama-sama.
Bahan pembuat ogoh-ogoh biasanya terbuat dari kerangka bambu dibungkus kertas.
Sekarang tidak sedikit juga ogoh-ogoh yang dibuat dari styreofom.
Baca Juga: Jelajahi Kekayaan Budaya Bali, 4 Destinasi Wisata yang Bisa Dikunjungi Saat Liburan ke Pulau Dewata
Rupa dan wujud ogoh-ogoh haruslah mencerminkan unsur negatif, kejahatan dan sifat buruk manusia.
Karenanya ogoh-ogoh selalu terlihat menyeramkan.
Artikel Terkait
Tradisi Unik di Seluruh Dunia yang Banyak Berkaitan Dengan Mitos dan Kepercayaan
Tradisi Unik Berbagai Suku di Indonesia yang Masih Dipertahankan
Kental Akan Tradisi dan Budaya, 3 Desa Wisata di Bali ini Wajib Kamu Kunjungi
Pantai Pasut, Hidden Gem di Bali yang Punya Banyak Spot Foto Instagramable, Sunsetnya Seindah Itu!