Cek Lokasinya di Sini! Pawai Ogoh-Ogoh, Tradisi Menyambut Hari Raya Nyepi di Bali yang Melambangkan Penyucian Diri dan Lingkungan

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Jumat, 8 Maret 2024 | 13:00 WIB
Ogoh-ogoh yang akan dibawa keliling kota ini melambangkan unsur-unsur negatif kehidupan. (indonesiakaya.com)
Ogoh-ogoh yang akan dibawa keliling kota ini melambangkan unsur-unsur negatif kehidupan. (indonesiakaya.com)

Kabar BUMN - Sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu di Bali akan melakukan sejumlah ritual.

Diawali dengan melasti atau upacara sembahyang, dilanjutkan pengerupukan.

Upacara pengerupukan yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori rumah, dan menciptakan suara ramai.

Tujuannya untuk mengusir Buta Kala, yang sering dilakukan juga dengan pawai ogoh-ogoh.

Baca Juga: Merayakan Nyepi di Bali, HIG Siapkan Berbagai Penawaran Menarik

Mengusir Buta Kala
Dalam masyarakat Hindu Bali, Buta Kala adalah perwujudan unsur-unsur negatif dalam hidup manusia.

Di pawai ogoh-ogoh ini patung dengan rupa jelek dan mengerikan akan diarak keliling dan dibakar.

Pawai ogoh-ogoh dilakukan sehari sebelum Nyepi.

Baca Juga: Kental Akan Tradisi dan Budaya, 3 Desa Wisata di Bali ini Wajib Kamu Kunjungi

Setiap desa atau banjar menyiapkan satu ogoh-ogoh raksasa yang akan diarak keliling bersama-sama.

Bahan pembuat ogoh-ogoh biasanya terbuat dari kerangka bambu dibungkus kertas.

Sekarang tidak sedikit juga ogoh-ogoh yang dibuat dari styreofom.

Baca Juga: Jelajahi Kekayaan Budaya Bali, 4 Destinasi Wisata yang Bisa Dikunjungi Saat Liburan ke Pulau Dewata

Rupa dan wujud ogoh-ogoh haruslah mencerminkan unsur negatif, kejahatan dan sifat buruk manusia.

Karenanya ogoh-ogoh selalu terlihat menyeramkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Sumber: direktorat pai

Tags

Artikel Terkait

Terkini