Kabar BUMN - Yogyakarta dikenal dengan tradisi dan budaya yang unik dalam memperingati Hari Raya Idulfitri. Salah satu tradisi yang masih terus dilakukan hingga saat ini adalah Grebeg Syawal. Seperti apa keunikan tradisi menyambut lebaran satu ini?
Memasuki Hari Raya Idulftri banyak masyarakat menyambutnya dengan berbagai tradisi yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Salah satunya adalah tradisi Grebeg Syawal di Yogyakarta. Tak hanya diikuti abdi dalem keraton, tradisi lebaran satu ini juga diramaikan oleh masyarakat umum, termasuk wisatawan.
Grebeg Syawal adalah wujud syukur dari ngarso dalem Keraton Yogyakarta setelah melewati bulan Ramadan. Tradisi turun-temurun ini sudah dilaksanakan sejak abad ke-16, dan masih terus dilestarikan sampai sekarang.
Sebutan grebeg mempunyai arti diiringi oleh banyak orang, atau iring-iringan para prajurit dan abdi dalem keraton. Ada juga pendapat yang mengartikan grebeg sebagai deru angin atau keramaian saat berlangsungnya tradisi tersebut.
Biasanya, Grebeg Syawal dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal. Namun, rangkaian panjang menuju Hari Raya Idulfitri ini sudah dilangsungkan beberapa hari sebelum lebaran. Nah, berikut beberapa rangkaian Grebeg Syawal menyambut lebaran di Yogyakarta:
Gladi resik prajurit
Sebelum perayaan Grebeg Syawal, biasanya para prajurit dan abdi dalem keraton akan melakukan gladi resik. Acara biasanya dilaksanakan pada Minggu sore terdekat sebelum tanggal 1 Syawal. Meski masih latihan, kita bisa menyaksikan pagelaran ini di Alun-alun Keraton, atau sekitar jalan yang dilalui prajurit dan abdi dalem.
Tumplak Wajik
Tumplak Wajik adalah tradisi yang dilakukan Keraton Yogyakarta untuk mengawali rangkaian pembuatan gunungan. Biasanya, tradisi ini dilakukan 4 hari menjelang Idulfitri oleh abdi dalem di Panti Pareden; area keraton. Acara ini diawali dengan membacakan doa ubo rampe: hasil bumi berupa sayur, buah, kacang-kacangan, dan wajik.
Kemudian para abdi dalem akan menyusun ubo rampe ke dalam kerangka gunungan. Selama proses pembuatan gunungan, kita bisa melihat gejog lesung (penumbuk padi) yang terus dipukul. Setelah proses selesai, abdi dalam akan mengoleskan dlingo bengle atau parutan empon-empon berwarna kuning, pada gunungan yang akan diarak saat Grebeg Syawal.
Tradisi Tumplak Wajik ini bertujuan untuk mengusir roh jahat dan segala hal buruk yang mungkin mengganggu pembuatan gunungan. Diharapkan pula, Grebeg Syawal berjalan dengan lancar, serta para keluarga Keraton dan masyarakat diberi keselamatan dan kesehatan.
Grebeg Syawal
Acara puncak dalam menyambut Hari Raya Idulfitri di Yogyakarta. Dalam Grebeg Syawal terdapat 7 Gunungan yang dikawal pasukan keraton. Sebelum diberikan untuk masyarakat, biasanya gunungan tersebut diarak dari Pagelaran Keraton hingga Masjid Agung (Masjid Gedhe Kauman) untuk dibacakan doa guna mendapatkan kebaikan bagi raja dan rakyatnya.
Setelah didoakan, gunungan akan dilepas dan diperebutkan oleh masyarakat. Puncak acara ini biasanya dilaksanakan pukul 10.00 pagi, atau setelah salat id. Tak hanya berebut hasil bumi saja, ubo rampe yang sudah didoakan dipercaya memberi keberkahan. Karena itu, jangan sampai melewatkan tradisi menyambut lebaran yang seru di Yogyakarta ini, ya!