Jarak antara satu rumah dengan rumah lain di Pulau Bungin sangat berdempetan.
Ini tidak lepas dari tradisi, yakni pria yang akan menikah wajib menyiapkan lahan sendiri.
Mereka menimbun karang mati dan bebatuan sebagai pondasi untuk membuat bangunan baru.
Karena sulit untuk menimbun banyak karang, jarak bangunan baru tentu tidak bisa dengan lainnya.
Baca Juga: Untuk Memaksimalkan Pengalaman Pertama Bike Tour, Ini Yang Perlu Dipersiapkan Pemula
Pulau di NTB, penduduknya Suku Bajo
Meskipun berada di NTB, penduduk yang tinggal Pulau Bungin dari Suku Bajo, Sulawesi Selatan.
Penduduk yang menempati pulau keturunan Suku Bajo yang bermigrasi ratusan tahun lalu.
Hampir seluruh penduduk pulau ini menjadi nelayan. Pulau Bungin pun menjadi surganya boga bahari.
Baca Juga: Tips Bertahan di Perantauan untuk Anak Kost yang Sering Rindu Rumah
Dari mula, penduduk membangun rumah berbentuk rumah panggung yang sedikit menjorok ke pantai.
Karenanya “pantai” di Pulau Bungin tidak memiliki garis pantai. Dari pinggir bangunan sudah langsung ke laut.
Kalau pelancong ingin menginap, bisa homestay di rumah-rumah panggung milik penduduk.
Baca Juga: Merapat! Warga Bandung Raya Bisa Nikmati Golden Ticket Trans Studio, Hemat Hingga 64%!
Untuk menambah penghasilan, sebagian penduduk juga membuat souvenir dari kerang yang dijual dengan harga murah.
Artikel Terkait
Liburan Seru di Nusa Tenggara Barat
Danau Asin Satonda: Keajaiban Alam Tersembunyi di Tengah Laut NTB
Wisata ke Sumbawa di NTB? Jangan Lupa Icipi 5 Kuliner Khas Ini
Wisata Antimainstream, Berenang dan Berdekatan dengan Hiu Paus di Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat
Uniknya Menyaksikan Laut yang Terbelah Menjadi Dua di Pantai Lariti, Bima, NTB
Gunung Rinjani Ditutup Mulai 1 Agustus , Ini Alternatif Gunung di Nusa Tenggara Barat yang Bisa Didaki