Kabar BUMN - Pembicaraan tentang gaji biasanya menjadi tahap akhir rekrutmen. Di saat ini, tidak sedikit orang yang pasrah saja dengan gaji yang ditawarkan perusahaan. Baik karena merasa sungkan atau jumlah itu sudah pantas.
Sudah bagus dapat pekerjaan, jangan sampai menolak rezeki, begitu pandangan banyak orang lain. Di sisi lain, Anda ingin mendapatkan gaji besar tetapi di sisi lain merasa tidak pantas mendiskusikannya.
Sesungguhnya orang tidak harus menyetujui begitu saja tawaran yang diberikan pihak HRD. Walaupun masih anak baru atau fresh graduate, sah-sah saja membicarakan soal gaji, yang penting tahu triknya.
Baca Juga: 5 Cara Negosiasi Gaji, Salah Satunya Harus Percaya Diri
1. Lakukan riset
Sebelum bernegosiasi soal gaji, lakukan riset mendalam tentang besaran gaji di pasaran untuk pekerjaan yang ditawarkan kepada Anda.
Anda bisa mencarinya dari beberapa website pencari kerja, ada banyak artikel soal patokan atau pasaran gaji yang ditawarkan. Termasuk gaji untuk fresh graduate atau entry level pada satu bidang.
Bagi entry level tanpa pengalaman kerja tentu negosiasi gaji tidak bisa terlalu besar.
Baca Juga: Aturan 50/30/20, Konsep Dasar Mengelola Gaji Bagi Fresh Graduate
Namun, bila Anda punya pengalaman misalnya pengalaman magang atau pernah terlibat dalam sejumlah proyek yang mirip dengan jenis pekerjaan yang ditawarkan, permintaan gaji bisa lebih tinggi.
Pertimbangkan juga lokasi pekerjaan. Bila lokasinya cukup terpencil dan jauh dari kendaraan umum, Anda bisa meminta tambahan gaji.
Alasannya, butuh biaya lebih banyak untuk transportasi atau biaya kost yang dekat dengan kantor.
Baca Juga: First Jobber, Ini Kebiasaan Kecil Untuk Menghemat Gaji yang Kecil
2. Jurusan kuliah dan skill khusus
Tingkat pendidikan dan asal kampus bisa jadi salah satu kelebihan yang ditonjolkan. Ini bisa jadi salah satu senjata untuk bernegosiasi.
Anda bisa menyebutkan dengan tingkat pendidikan, katakanlah lulusan dari universitas negeri terkemuka, kualitas Anda sebagai calon pekerja pun di atas rata-rata fresh graduate yang lain.
Bisa juga memfokuskan pada skill, karena ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan skill atau ilmu pendidikan di jurusan tertentu. Misal kemampuan bahasa Mandarin yang fasih, kemampuan dalam SEO marketing, dan lain-lainnya.