Lempeng ini karakternya keras dan terpecah-pecah yang mudah bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda.
Baca Juga: Antisipasi Gempa Bumi: Apa yang Harus Dilakukan Saat Gempa?
Umumnya gerakan lempeng bumi sangat pelan dan tidak terasa manusia. Rata-rata lempeng bumi ini bergerak sebanyak 0-15 cm per tahun.
Tapi, dalam beberapa kasus, gerakan lempeng bumi tidak mulus dan saling bertabrakan. Pada saat itu terjadi pengumpulan energi.
Bila keduanya saling bertabrakan dan tidak mampu menahan gerakan tabrakan tersebut, terjadilah pelepasan energi yang besar. Dan, saat itulah terasa sebagai gempa bumi.
Baca Juga: Mengenal Sesar Cimandiri Penyebab Gempa Cianjur, Berbahaya?
Terjadi di darat dan dasar laut
Pertemuan antara dua lempeng bumi ini tidak hanya terjadi di darat tapi juga di dasar laut.
Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah utara dan menyusup ke lempeng Eurasia, sedangkan lempeng Pasifik bergerak ke arah barat.
Di beberapa kasus, pertemuan antara lempeng ini terjadi di dasar laut.
Baca Juga: Pemulihan Cianjur, Ini Tips Menjaga Kesehatan Bagi Penyintas Gempa
Di saat munculnya gempa di dasar laut ini getarannya bisa terasa sampai ke daratan dan dirasakan oleh penduduk di dekat wilayah tersebut.
Bila pertemuan antara lempeng di dasar laut menimbulkan tabrakan yang sangat kuat, ini bisa berpotensi munculnya tsunami.
Karena itu pula selain sering gempa, sejumlah kawasan di Indonesia rawan mengalami tsunami.
Baca Juga: Tak Hanya Panjang, Jalan Tol Trans Sumatera Juga Dirancang Tahan Gempa
Bila pusat gempa di dasar laut, pihak BMKG pun sering memberikan peringatan, bilamana gempa berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak.