ragam

4 Tradisi Masyarakat Hindu di Indonesia dalam Menyambut Hari Raya Nyepi, di Luar Tradisi Masyarakat Hindu Bali

Jumat, 8 Maret 2024 | 14:30 WIB
Pelaksanaan salah satu rangkaian upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan dalam peringatan hari raya Nyepi. (jatengprov.go.id)

Di hari itu, seluruh daerah di Bromo tanpa kegiatan, termasuk tidak ada pendakian ke Gunung Bromo.

Sehari sebelum dilaksanakan Nyepi, masyarakat Tengger melakukan ritual melasti di Goa Widodaren dekat Gunung Batok.

Baca Juga: 5 Spot Terindah di Bromo yang Jadi Favorit Para Fotografer, Bukan hanya Bukit Teletubbies

Umat Hindu Tengger, tidak hanya di Bromo tetapi juga dari Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.

Mereka berjalan ke Goa Widodaren untuk membersihkan diri dan mengambil air suci di situ.

Setelah itu dilanjut dengan ritual tawur agung di Jurang Kendil, desa Sumbereanom, Probolinggo.

Di sini mereka akan membakar ogoh-ogoh. Malam harinya diadakan pawai obor sampai pukul 20.00 WIB.

Baca Juga: Kembali Menghijau Usai Terbakar, Berikut 7 Tips Agar Bisa Menikmati Keindahan Sunrise di Gunung Bromo

3. Lombok
Penganut agama Hindu di Lombok umumnya berasal dari Bali yang pindah di abad 16 dan beranak cucu di kota itu.

Menyambut hari raya Nyepi, masyarakat ini gelar tradisi perang api, atau dikenal juga dengan perang bobok.

Perang api yang sudah ada sejak abad ke 16 ini dilakukan dua kelompok dari Kampung Negara Sakah dan Banjar Sweta.

Mereka berperang dengan mengunakan bobok (daun kelapa kering) yang sudah dibakar.

Baca Juga: 4 Desa Wisata di Lombok dengan Keragaman Budaya dan Kehidupan Masyarakat yang Unik

Walaupun dinamakan perang api tetapi kedua kelompok ini tidak sungguhan bertikai.

Setelah perang selesai peserta perang api akan saling berjabatan tangan.

Perang api bagian dari ritual mengusir wabah penyakit yang dibawa roh jahat (Butha Kala) penganggu kehidupan manusia.

Perang api juga jadi simbol untuk membersihkan diri dari unsur jahat sebelum melakukan nyepi.

Halaman:

Tags

Terkini