ragam

Mitos, Batu Candi Borobudur Direkatkan Dengan Putih Telur

Selasa, 7 Juni 2022 | 08:39 WIB

Kabar BUMN -  Tampilan megah dan sangat menawan pada Candi Borobudur melewati proses pembuatan yang panjang dan berdasar penelitian setidaknya melalui empat tahap dengan teknik penyusunan batu yang unik.

Terletak di Magelang, Jawa Tengah, Candi Borobudur merupakan Candi Buddha terbesar di dunia. Megah serta memiliki karakteristik dan makna tersendiri, tidak heran jika Candi Borobudur telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1991.

Tapi siapa yang mengira, ternyata di balik kemegahan Candi Borobudur tersimpan sejarah dan proses pembuatan yang sangat panjang. Menurut penelitian para ahli, setidaknya proses pembuatan Candi Borobudur melalui empat tahapan, dengan dua kali pembangunan tambahan pada bagian kaki. Proses ini berlangsung dari 780 Masehi hingga 833 Masehi.

Namun yang tak kalah menarik adalah misteri terkait penyusunan batu-batuan pada Candi Borobudur. Benarkah batu tersebut direkatkan dengan putih telur?

Teknik Penyusunan Batuan Candi Borobudur

Proses pembuatan Candi Borobudur menggunakan teknik sambungan. Lucunya, banyak yang mengira setiap batuan candi direkatkan dengan putih telur ayam. Faktanya, perekat setiap batuan candi berbahan bata berasal dari rontokan bata yang saling digesekkan lalu diberi air.

Sementara itu, perekat pada batuan candi menggunakan teknik sambung. Artinya, setiap batu dipahat sedemikian rupa, agar setiap baru bisa saling mengisi dan mengunci satu sama lain. Menurut para ahli, ada empat teknik sambungan yang digunakan dalam penyusunan batuan Candi Borobudur.

Teknik yang pertama adalah sambungan batu berbentuk ekor burung. Tipe sambungan ini dijumpai hampir di setiap sambungan batu dinding. Kedua adalah teknik sambungan batu dengan tipe takikan, yaitu jenis sambungan yang banyak digunakan pada bagian hiasan kepala kala, relung, dan gapura.

Teknik sambungan yang ketiga adalah tipe alur dan lidah. Jenis sambungan tipe alur dan lidah banyak digunakan pada pagar selasar, serta batu ornamen Makara di bagian kanan-kiri tangga dan selasar.

Terakhir adalah sambungan batu dengan tipe purus dan lubang. Biasanya tipe teknik sambungan ini banyak digunakan pada batu antefik, yakni hiasan di luar candi yang berbentuk segitiga meruncing dan kemuncak pagar langak. Teknik sambungan inilah yang membuat Candi Borobudur tidak mudah rusak meskipun terkena gempa.

Sementara itu, setidaknya dibutuhkan batuan andesit berbentuk balok sebanyak 55.000 m3 untuk menutupi Bukit Borobudur. Perlu diketahui, batu andesit sudah umum digunakan sebagai bahan bangunan pada candi di wilayah Jawa Tengah.

Awalnya, batu andesit akan dipahat, lalu “ditempel” di sekeliling bukit hingga setiap sisinya tertutup susunan balok yang membentuk bangunan berundak segi delapan. Hingga puncaknya, tepat di ketinggian 30 meter dipasang sebuah stupa.

Terkini