ragam

Jadah Tempe: Kuliner Khas Jogja Favorit Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Selasa, 9 Juli 2024 | 07:00 WIB
Jadah Tempe - Kuliner khas Jogja favorit Sri Sultan Hamengkubuwono IX. (diahdidi.com)

Makna Filosofis Jadah Tempe

Jadah tempe mengandung filosofi yang dalam. Hidangan ini merupakan representasi visual dari bendera Majapahit, yang menggunakan ketan putih dan gula merah sebagai bahan dasarnya.

Pada masa lalu, para pejuang mengadopsi semangat Patih Gajah Mada yang berjuang di bawah bendera merah putih.

Baca Juga: 4 Konbini Terkemuka di Jepang, Tiap Brand Punya Keunggulan dan Keunikan Masing-masing

Cara makan jadah tempe yang benar adalah dengan menempatkan jadah di bawah dan tempe di atas.

Ini melambangkan bahwa dalam hidup, seseorang harus melewati pahit dan getir terlebih dahulu sebelum merasakan manisnya.

Jadah yang lengket juga melambangkan pentingnya kekompakan dalam perjuangan.

Baca Juga: Cara Cek Status Penerima PIP Kemdikbud 2024, Siswa SMA Dapat Rp1,8 per Tahun

Sejarah Jadah Tempe di Jogja

Jadah tempe awalnya adalah makanan sehari-hari yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat desa.

Pada tahun 1950-an, seorang carik bernama Sudimah Wiro Sartono, yang dikenal sebagai Mbah Carik, dari Desa Kaliurang, mulai memperkenalkan makanan ini kepada masyarakat luas.

Baca Juga: Undi-undi Hepi Telkomsel Juli 2024: Apakah Saya Bisa Memenangkan Lebih dari 1 Hadiah dalam 1 Periode?

Kepopuleran jadah tempe meningkat setelah Sri Sultan Hamengkubuwono IX mencicipinya dan sangat menyukainya.

Sultan sering mengutus pengawalnya untuk membeli jadah tempe dari Kaliurang.

Sejak itu, jadah tempe menjadi salah satu kuliner khas Jogja yang terkenal. Kini, jadah tempe menjadi salah satu oleh-oleh yang wajib dibeli saat berkunjung ke Jogja, terutama di daerah Kaliurang.***

 

Halaman:

Tags

Terkini