ragam

Keharmonisan Manusia dan Alam di Desa Wisata Jatiluwih, Bali, yang Mendapat Penghargaan The Best Tourism Village 2024

Selasa, 19 November 2024 | 08:30 WIB
Areal persawahan terasering di Jatiluwih ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. (dailyvoyagers.com)

Kabar BUMN - Desa wisata Jatiluwih baru saja mendapat penghargaan The Best Tourism Village 2024 dari UN Tourism.

Satu jam perjalanan dari Denpasar, Desa wisata Jatiluwih berada di Kecamatan Penebel, Tabanan.

Desa wisata Jatiluwih berada di ketinggian 685 mdpl, tepatnya di lereng Batukaru.

Selain pemandangan cantik, desa ini menyimpan tradisi dan upacara tradisional berusia ratusan tahun.

Baca Juga: Terlempar ke Masa Lalu di Desa Wisata Sade, Desa Adat Suku Sasak yang Berumur 1.500 Tahun

Sistem pengairan subak
Sebagian besar penduduk desa wisata Jatiluwih berprofesi sebagai petani.

Pemandangan utama dari desa ini adalah pematang sawah yang serba hijau dan asri.

Penduduknya masih mempertahankan sistim irigasi subak yang sudah digunakan sejak abad ke 11.

Baca Juga: Uniknya Seni Gerabah di Desa Wisata Kasongan Bantul, Yuk Berkunjung!

Subak mengimplementasikan konsep keseimbangan dan harmonisasi antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Filosofinya berasal dari ajaran Tri Hita Karana dari agama Hindu.

Tahun 2012, sistem pengairan subak diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya yang perlu dilindungi.

Baca Juga: Sehari Menjadi Masyarakat Tepi Pantai di Desa Wisata Arborek, Raja Ampat

Di desa wisata Jatiluwih, turis suka mengelilingi pematang sawah yang berundah-undak atau terasering.

Di saat itulah, orang bisa melihat cara menanam padi, subak, atau bila saatnya panen, ikut memanen padi.

Desa wisata Jatiluwih terkenal sebagai sentra beras merah.

Beras yang dihasilkannya lebih pulen dan aromanya harum.

Halaman:

Tags

Terkini